Senin, 24 Januari 2022

Menjadi Hamba Dengan Bersyukur

Tentang Syukur


Salah satu ibadah qalbu yang harus kita lakukan adalah “bersyukur” setiap saat, terkhusus “di saat Allah memberikan kita nikmat.” 


Syukur dikategorikan sebagai ibadah, karena didalam syukur ada syarat “Ubudiyah (penghambaan) seorang hamba” yaitu ‘pengakuan ikrar’ kita kepada Allah bahwa yang memberikan kita berbagai macam kenikmatan, semata-mata hanyalah Allah dan bukan hasil jeri paya kita, sebagai bentuk ta’adduban atau adab kepada Allah, juga karena didalam syukur, ada pengakuan bahwa kita hanyalah makhluk Allah yang lemah dihadapan Allah, wajar kemudian syukur ini menjadi ibadah yang utama disisi Allah.


Tidak ada kerugian jika kita senantiasa bersyukur kepada Allah, justru sebaliknya, kerugian itu akan menimpa bagi mereka yang ingkar atau kufur terhadap nikmat Allah. Diantara kerugian tersebut, minimal dicabutnya nikmat-nikmat dari kita dan kerugian tiada tara adalah azab Allah atas orang-orang yang mengingkari dan kufur terhadap nikmat Allah.


Maka sebagai hamba, syukur itu sudah menjadi wajib hukum nya, setiap saat, setiap waktu, terkhusus ketika diberikan nikmat. Sebab dengan bersyukur, Allah akan mengekalkan nikmat itu pada kita, plus akan ditambah dengan nikmat yang lain yang lebih banyak. 


Jadi sebenarnya dengan bersyukur setidaknya nya kita akan mendapatkan 2 hal;


  1. Allah mendawamkan/mengekalkan nikmat tersebut pada kita.
  2. Allah menambahkan nikmat Nya dengan yang lebih banyak lagi.


Jika melihat betapa penting nya syukur ini dalam hidup kita, terus apa yg dimaksud dengan syukur itu sendiri, bagaimana ulama kita memahami syukur itu?


Sebenarnya syukur secara definisi, banyak sekali disebutkan, akan tetapi dari yang banyak itu, ada definisi yang menarik dari Imam Ibnu ‘Ajibah yang mewakili definisi yang lain, yaitu;


"هو فرح القلب بحصول النعمة مع صرف الجوارح في طاعة المنعم والاعتراف بنعمة المنعم على وجه الخضوع"


Artinya:

“Syukur adalah rasa senang yang datang dari hati, sebab mendapatkan nikmat, yang dimana bersamaan dengan itu, menjaga seluruh anggota badan dalam rangka taat kepada pemberi nikmat (Allah) dan mengakui nikmat tsb yang dari dari Allah dengan penuh ketundukan…”


Apa saja yg harus kita syukuri dan bagaimana cara bersyukur kepada Allah?


Setelah kita sadari betapa baik nya Allah kepada kita, saking baik nya Allah kepada kita, Allah tidak pernah sedikit pun mengurangi jatah nikmat kita, hanya karena maksiat dan pengkhianatan kita kepada Nya, Allah tidak pernah mencabut nikmat Nya di saat kita sedang lalai dan maksiat kepada Nya, padahal bisa saja bagi Allah melakukan itu semua nya kepada kita, namun sebagaimana kalam Nya “Warahmati sabaqat min ghadabi” rahmat Ku lebih cepat dari pada murka Ku. 


Maka sebagai seorang hamba yg sadar bahwa semua hidup kita adalah anugerah dari Allah maka sepatut nya bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, apapun yg Allah berikan kepada kita baik rezeki yg kasat mata, maupun yg tak kasat mata. Lebih jelas nya, sebagaimana yg disebutkan oleh para ulama kita tentang nikmat yg wajib kita syukuri, mereka membagi nikmat menjadi 3 macam;


  1. Nikmat Dunia, ini nikmat paling rendah yg justru hari ini kita agung-agungkan, kita Tuhan-Tuhan kan, padahal secara tingkatan nikmat ini yg paling rendah, dimana Allah tidak mengkhususkan nikmat ini, diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki, baik yg muslim maupun non muslim, baik yg beriman maupun yg tidak beriman, sebagai bentuk rahmah atau kasih sayang nya Allah kepada semua makhluk Nya. Walau demikian wajib bagi kita yg dianugerahi nikmat dunia untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, nikmat tersebut berupa, harta, tahta, jabatan, kesehatan dan nikmat dunia lain nya. Maka wajib untuk kita syukuri.


  1. Nikmat Akhirat, nikmat ini sedikit lebih khusus, dimana Allah berikan hanya kepada orang-orang yg beriman kepada Nya, berupa pahala, keutamaan, dan fadhilah, sebagai bentuk imbalan ketaatan yg mereka lakukan.


  1. Nikmat Diniah, nikmat ini hanya Allah berikan kepada kekasih nya, berupa makrifat, takwa (rasa takut kepada Nya) dan kemampuan untuk bisa beramal. Dan ini dipertegas oleh Allah sendiri didalam Alquran Allah SWT berfirman;


وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ


“Akan tetapi Allah lebih cinta atas kalian keimanan dan menghiasi qalbu kalian dengan iman, dan Allah sangat tidak mencintai kekufuran dan kefasikan juga kemaksiatan, mereka inilah orang-orang Rasyidun (yg mendapat petunjuk)


Dan bagi seorang hamba yang dituntut untuk selalu bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang telah diberikan, maka tak ada cara kita bersyukur kepada Allah melainkan dengan;


  1. Bersyukur dengan lisan kita, minimal dengan selalu mendawamkan (merutinkan) membaca “alhamdulillah”. Dan diantara bentuk bersyukur dengan lisan kita adalah “tahadduts bin ni’mah” bercerita tentang nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, karena sebagaimana kita manusia senang pemberian kita dihargai dengan disebut-sebut bahwa itu adalah pemberian kita, pun begitu juga dengan Allah, Allah senang jika nikmat Nya disebut-sebut. Hanya saja bagi kita yg ingin “Tahadduts bin ni’mah” untuk memperhatikan kondisi hati kita, agar tidak menjadi ajang pamer dengan dalih tahadduts bin ni’mah.


  1. Bersyukur dengan anggota tubuh, yaitu dalam bentuk taat kepada Allah, menjaga semua anggota tubuh kita agar tidak bermaksiat kepada Allah, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita, sebagaimana Allah memerintah kan Nabi Daud dan keturunan nya agar bersyukur dengan cara beramal sebagaimana yg disebutkan didalam Alquran Allah SWT berfirman;


اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا

“Beramal lah kalian wahai keluarga Daud sebagai wujud Syukur”


Dan Rasulullah SAW adalah sosok hamba yg paling bersyukur kepada Allah, manusia yang paling sempurna dalam bersyukur kepada Allah SWT, dan wujud syukur beliau diwujudkan dalam bentuk ibadah, padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni oleh Allah, baik yg telah lalu maupun yang akan datang, manusia yang sudah dijamin masuk syurga, padahal bisa saja beliau bersantai-santai dalam ibadah, tak perlu begitu giat, namun itulah wujud syukur nya beliau kepada Allah karena sudah memberikan nikmat tiada tara.


  1. Bersyukur dengan Qalbu, yaitu dengan meyakini apa pun yg kita peroleh berupa nikmat, semua nya berasal dari Allah. Semua kenikmatan yang kita rasakan tidak membuat kita lalai dari sang pemberi Nikmat, inilah syukur tertinggi seorang hamba, ia selalu melihat bahwa apa yang ia dapatkan adalah semuanya dari Allah, sedangkan makhluk hanyalah wasilah, tentu dengan tidak menghilangkan rasa terima kasih kita kepada siapa saja yang menjadi wasilah atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.



Maka dari itu mari saya mengajak baik diri sendiri maupun para pembaca, jadilah hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah atas anugerah yang tiada tara, baik dengan lisan kita yaitu dengan mendawamkan “alhamdulillah”, dengan perbuatan yaitu dalam bentuk ketaatan kepada Nya, maupun dengan qalbu kita yaitu meyakini Allah SWT lah satu-satu nya pemberi nikmat.


Selasa, 04 Agustus 2020

"AKAL DALAM PERSPEKTIF ASWAJA"


"AKAL DALAM PERSPEKTIF ASWAJA" 

Oleh: Zulfikar Harun Lc 

Diantara kelebihan akidah aswaja, ushulul i'tiqad nya dibangun diatas dua dalil kokoh yang saling menguatkan satu sama lainnya. Balance dari kedua dalil ini yg kemudian membuat akidah aswaja menjadi tahan banting, dan sangat teruji secara ilmiah. 

Ini bisa dibuktikan dari keselarasan, juga ke seimbangan antara ayat-ayat Tuhan (dalil Naqli) dengan nalar manusia (dalil aqli) yang dimana di tangan para ulama Aswaja menjadi tidak berbenturan, kontradiksi antara naqli dan aqli, apalagi sampai fallacy. 

Bagi Aswaja ayat-ayat Tuhan dan nalar manusia tidak semestinya saling berbenturan dan kontradiksi. Meletakkan Ayat-ayat Tuhan pada urutan pertama tanpa mengabaikan peran nalar manusia, juga tidak menjadikan satu-satunya akal sebagai landasan utama dalam menilai suatu kebenaran tanpa melibatkan wahyu. 
Karena bagi aswaja ayat-ayat Tuhan itu bukan teks kosong yang tak bermakna. Maka sesuatu yang bermakna tentu tak bisa dipahami kecuali melalui akal dan nalar manusia, sebagaimana akal tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan wahyu. 

Namun ini sangat kontras dengan beberapa sekte sesat lagi menyesatkan yg dimana tidak proporsional dalam menempatkan kedua dalil tersebut. Sekte sesat mu'tazilah yang terlalu men Tuhan kan akal sebagai satu-satunya penentu kebenaran, sehingga dari keyakinan ini lahirlah konsep "etika" dan "estetika" (التحسين والتقبيح) yang mana menurut mereka, baik dan buruk nya sesuatu, berpahala dan berdosa nya suatu perbuatan, mampu dinalar oleh akal manusia.

Demikian juga kelompok SESAT lagi MENYESATKAN  MUJASSIMAH dan MUSYABBIHAH yang dimana telah "MENGUBUR HIDUP -HIDUP PERAN AKAL DAN NALAR MANUSIA" bagi mereka, akal tak terlalu diperlukan dalam memahami ayat-ayat Tuhan. Sehingga wajarlah untuk kelompok ini, pasti akan kita temui banyak hal yang kontradiksi, fallacy, belum lagi pendapat pendapat mereka yang AMBYAR antara pendapat ulama nya dengan duat nya(tak perlu saya lampirkan contoh nya, terlalu banyak berserakan baik di kitab nya, karya tulis nya maupun dimedsos). 

Jika kita perhatikan sumber kedua sekte sesat diatas, maka akan kita dapati bahwa semua kesesatan mereka bersumber dari ketidak proporsionalan dalam menempatkan akal. Berlebihan dalam menempatkan akal sampai membuang wahyu, dapat menyesatkan manusia, namun potensi tersesat lebih besar bagi mereka yang membuang akal.

Ahlus sunnah wal jama'ah asy'ari dan maturidi lah yang sukses dalam memadukan kedua dalil diatas tanpa harus membenturkan nya. Kesuksesan tsb bisa kita lihat dari lahirnya satu "timbangan" atau "standardisasi" untuk menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah, melalui nalar manusia dengan mengkategorikan "Mustahil" bagi akal sebagai rumus untuk menerima dan menolak, juga menentukan mana yang benar dan yang bathil. 

Karena menurut keyakinan ulama aswaja, "akal yg sehat" salah satu diantara "fakultas" yang dapat mengantarkan seorang manusia kepada kebenaran. Dan semua ulama aswaja maupun manusia yang berakal juga sepakat bahwa out put dari objek aqliyah, berkonsekuensi kepada sesuatu yg "Qath'i", dan final, tidak bisa diganggu gugat, bagi yang mempermasalahkan nya, patut dipertanyakan akal sehat nya dan ini konsekuensi paling rendah bagi mereka yang mengingkari kebenaran yang disimpulkan oleh akal, sebagaimana kesalahan yang bersumber dari akal tidak bisa tolerir. 

Kemudian menjadi pertanyaan, akal manusia dalam timbangan aswaja seperti apa, apakah akal punya batasan tertentu? Dalam artian, adakah konten yang tidak bisa dijangkau atau dipahami oleh akal kita? 

Menurut pendapat yang kuat dan masyhur dalam internal aswaja, ada konten yang tidak bisa dijangkau atau tidak bisa dipahami oleh akal, yaitu konten yang berkaitan dengan hal-hal yang mustahil bagi akal, seperti; terkumpul nya dua hal yg berlawanan "dhidhain" 

ضدَّان هما اللذان لا يجتمعان ويمكن ارتفعهما كالسواد   والبياض 

(Dhidhain itu adalah dua hal yang tidak bisa bersatu pada waktu yang bersamaan, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, misalnya tidak bisa bersatu antara hitam dan putih, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus dengan cara diganti dengan warna yang lain, merah, kuning atau coklat) 

Bagi aswaja inilah pendapat yang kuat tentang masalah batasan akal. Maka bisa dipahami bahwa ada konten yang masih masuk akal, masih bisa dijangkau dan dipahami oleh akal, sebagaimana ada beberapa konten yang memang tidak bisa dijangkau atau dipahami oleh akal dan nalar kita seperti konten yang berkaitan dengan "Perbuatan Allah" (أفعال الله) misalnya: 

1. Allah memberikan ganjaran berupa pahala bagi pemaksiat. 

2. Mengadzab yang taat 

3. Etika dan estetika atau التحسين والتقبيح, penilaian baik dan buruk, dosa dan berpahala terhadap sesuatu. 
Bagi akal, konten diatas tidak bisa dijangkau atau dipahami, karena dzahir nya berlawanan, sehingga konten diatas hanya bisa dipahami oleh bahasa iman atau dengan ayat-ayat Tuhan. 

Sebagaimana keadaan surga neraka secara rinci, pahala, dosa, ini semua hanya bisa diyakini dengan ayat-ayat Tuhan (السمع) karena kesemua konten yg disebutkan diatas, ghaib atau belum hadir saat ini, sehingga akal hanya bisa menyerah dan tunduk pada ayat-ayat Tuhan. 

Sebaliknya, akal bisa memahami dan menjangkau "حقائق الأشياء" misalnya "satu itu setengah dari dua", atau "eksistensi" ALLAH, sifat Hidup Allah, sifat kalam Allah, sifat Alim (mengetahui) sifat mampu, sifat berkehendak, termasuk ketetapan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Semua konten diatas itu bisa dipahami dan dijangkau oleh akal manusia. 

Inilah yang membuat akidah aswaja menjadi tahan banting, dan teruji secara ilmiah, karena mereka mampu merasionalkan apa yang menjadi keyakinan nya tanpa harus membenturkan nya dengan ayat-ayat Tuhan.

Berbeda dengan sekte sesat lagi menyesatkan mujassimah dan musyabbihah yang dimana banyak pendapat mereka yang tidak masuk akal dan juga selalu inkonsisten antara ayat-ayat Tuhan dengan akal manusia, itu terbukti dari beberapa keyakinan mereka misalnya mereka MEYAKINI bahwa;

-"Dzat Allah lebih besar dari pada alam semesta (dalam artian memiliki size/ukuran)"

Pada diwaktu yang bersamaan mereka juga meyakini bahwa;

-Allah turun kelangit dunia dengan "dzat Nya yang super duper besar itu" masuk ke tempat yang paling kecil sebagaimana perumpaan yang disebutkan oleh Rasulullah bahwa alam semesta ini kecil nya seperti ukuran cincin/koin yang dilemparkan ke tengah hamparan padang pasir jika dibandingkan dengan "kebesaran" Allah. Bagi mujassimah kebesaran Allah diatas dipahami dengan "bentuk, size/ukuran, dan volume" sedangkan bagi aswaja kebesaran diatas dipahami sebagai sifat. 

Ini mustahil bagi akal, tak ada seorang manusia yang berakal sehat, sempurna fikiran nya, yang menerima, saking mustahil nya bagi akal manusia, karena "ukuran besar dan kecil" merupakan dua hal yg bertentangan (النقيضان) tidak bisa bersatu pada waktu dan tempat secara bersamaan. Saking mustahil nya, bersatu antara "besar dan kecil" pada waktu yang bersamaan, Allah memperumpamakan nya didalam alquran, ketika mengkabarkan kondisi orang kafir yaitu mereka yang mengingkari Allah, mustahil bagi mereka untuk masuk syurga dengan menyebut dua hal yg bertentangan secara akal sehat النقيضان ;

(إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat kami dan berlaku sombong terhadap nya, maka tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk syurga sebelum unta masuk kedalam lubang jarum. Demikianlah kami membalas perbuatan orang-orang yang berbuat jahat"

[Surat Al-A'raf 40]

Dan masih banyak lagi contoh keyakinan mereka yg mustahil secara akal alias tidak masuk akal dan nalar manusia, juga bertentangan dengan ayat-ayat Tuhan.

Apa gerangan penyebab keyakinan mereka bisa inkonsisten antara ayat-ayat Tuhan dengan nalar manusia? Karena mereka tidak memperhatikan satu kategori penting dalam kajian akal yang dijadikan penentu untuk menyeleksi antara haq dan bathil yaitu sesuatu yang "Mustahil", inilah penyebab utama kesesatan akidah mereka karena "mengubur hidup-hidup peran akal, bagi mereka tidak ada yang namanya mustahil" sehingga menyebabkan banyak hal dalam keyakinan mereka yang bertentangan dengan akal sehat dan nalar manusia. 

Diantara pembagian ma'lumat yang dibagi oleh ulama aswaja yang masih ada kaitannya dengan "Akal" setidaknya ada 4 kategori;

1."Naqidhaani" (kontradiksi) yaitu dua hal yang tidak bisa terkumpul pada satu waktu dan tempat yg sama secara bersamaan, dan tidak pula bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, harus ada salah satu diantara keduanya yang dipilih, contoh seperti: ada dan tidak ada, gerak dan diam, naik dan turun, besar dan kecil, kesemua ini termasuk kategori "naqidhaani". Sehingga siapa saja yang sengaja mengumpulkan "naqidhaani" pada waktu dan tempat bersamaan, maka ada yang salah dengan akal sehat nya. 

2. "Dhidhaani" (bertolak belakang) yaitu dua hal yang tidak bisa terkumpul pada satu waktu dan tempat yg sama secara bersamaan, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, misalnya hitam dan putih, keduanya bertolak belakang, namun keduanya bisa diganti atau dihilangkan dengan warna yang lain misalnya dengan warna hijau, kuning atau merah.

3."Alkhilaafaani" (berbeda) yaitu dua hal yang bisa menyatu pada waktu dan tempat secara bersamaan, juga bisa dihilangkan kedua-duanya atau salah satu diantara keduanya. Misalnya gerak dan warna putih, ini dua hal yang berbeda, bisa berkumpul dalam waktu dan tempat secara bersamaan, bisa juga dihilangkan salah satunya. Dan hilang nya salah satu diantara keduanya tidak mempengaruhi eksistensi yang lainnya. Contoh lebih sederhana lagi, ada (eksistensi) dan tempat, ini dua hal yang berbeda, jika dihilangkan salah satunya, tidak akan memengaruhi eksistensi yg lain. Keberadaan Allah, tidak akan hilang walau tanpa tempat, sesuatu yang bersifat wajib ada, tidak akan menjadi tiada walau tanpa tempat, karena tempat dan "ada" bukan dua hal yg kontradiksi, bukan juga dua hal yang saling bertentangan, bisa dikumpulkan keduanya, sebagaimana bisa diangkat/dihilangkan salah satunya tanpa harus memengaruhi eksistensi nya.

Sekian, semoga bermanfaat.

Selasa, 21 Juli 2020

"ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPAPUN"

"Memahami ayat (لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)"

Oleh: Zulfikar Harun Lc

Ayat diatas salah satu diantara deretan ayat yang menegaskan secara gamblang lagi lugas bahwa Allah benar-benar tidak menyerupai apapun dan tak ada satu dari "apapun" yang menyerupai Nya. 
Penegasan ayat diatas bahwa Allah tidak serupa dengan apapun tentu bukan sekedar klaim belaka, akan tetapi dipertegas dengan pemahaman dibalik susunan ayat diatas yang berkesesuaian dengan kaidah tata bahasa dan ilmu retorika bahasa Arab yg disampaikan Allah melalui Ayat ini (bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah).

Para ulama pakar bahasa mencoba menjelaskan pesan yang disampaikan di balik ayat ini untuk membuktikan secara ilmiah bahwa Allah benar-benar tidak serupa dan tidak menyerupai siapa pun dan apapun bahwa "terkumpul nya" kalimat yg disinyalir sebagai alat tasybih (menyamakan sesuatu) yaitu huruf "kaf" (الكاف) dan "Mistl" (مثل) pada kalimat nafyu ليس (peniadaan) menunjukkan bahwa "meniadakan tasybih (yaitu ke tidak serupaan) bahkan pada batasan yang paling kecil sekalipun".

Artinya apa? Bahwa Allah SWT benar-benar tidak menyerupai dengan apapun, dan siapa pun yang ada di alam semesta ini. 

Ada kelompok yang mencoba  mengkompromikan ayat diatas dengan pemahaman nya, tujuannya untuk melegalkan paham sesat "tajsim dan tasybih" yaitu dengan mengatakan;
"bukan nya ayat diatas menegaskan justru Allah punya kesamaan dengan makhluk pada closing dari ayat tsb yaitu وهو السميع البصير" Dan Allah Maha mendengar juga Maha melihat?!

Maka kita jawab;

Makna "Al mitsl" jika benar bermakna "Sifat" maka tak ada yg bertentangan dengan keyakinan ahlus sunnah wal jama'ah bahwa "Allah itu bukan jism dan Allah tidak menyerupai apapun dan siapapun" dengan dipahami bahwa اشتراك "keikut sertaan" sifat Allah, maha mendengar dan maha melihat, bukan berarti "menyerupai" sifat melihat dan mendengar nya makhluk secara hakikat, bukti paling ril nya, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh Nabi bahwa di surga kelak banyak hal termasuk buah-buahan yg secara lafzdhz itu ada kesamaan (musytarak) dengan lafzdhz beberapa buah yg di kenal di dunia, namun hakikatnya? Tidak serupa! Sebagaimana yg ditegaskan oleh Nabi sendiri. Lalu apa hikmah dibalik kesamaan (musytarak) lafzdhz beberapa buah surga dengan buah di dunia? Agar memudahkan manusia untuk memahami nya. Harapan Nabi agar tidak ada satu pun yang menyangka bahwa surga itu hanya "khayali/hayalan" belaka sehingga mengingkari keberadaan surga. Akan tetapi dengan menetapkan nama secara lafzdhzi menunjukkan bahwa surga itu nyata. Sederhana nya sesuatu yg ada pasti punya nama dan sifat. 

Begitu juga dengan sifat Allah dengan menggunakan lafzdhz yang dipahami oleh manusia, tujuan nya agar tak ada yg menyangka bahwa Allah itu hanya "hayalan" manusia saja (sebagaimana tuduhan syeikh ibnu Taimiyah terhadap ahlus sunnah wal jama'ah tentang konsep Tuhan yang hanya khayali atau hayalan). 
Sehingga dari pemahaman ini lahir lah satu kaidah yang masyhur;

الاشتراك اللفظي لا يدل على الاشتراك الحقيقي

"keikut sertaan pada kesamaan lafzdhz tidak selalu menunjukkan kesamaan hakikat"

Juga melihat dan mendengar nya Allah tidak serupa dengan melihat dan mendengar nya makhluk. Jika makhluk melihat dan mendengar membutuhkan organ bantu berupa bola mata, cahaya dan lainnya, sebagaimana mendengar nya makhluk membutuhkan organ berupa telinga, gendang, gelombang suara dan lain nya, maka melihat dan mendengar nya Allah SWT tidak serupa dengan makhluk. Mendengar nya Allah tak membutuhkan alat sebagaimana melihat nya Allah tak membutuhkan bola mata. 
Kok bisa mendengar dan melihat tanpa telinga dan bola mata?! Sangat bisa, dan itu makin terbukti dengan keberadaan sains hari ini! Belum paham juga? Baik, itu bisa di buktikan dengan memahami kebalikan nya, maksudnya? Sebagaimana dalam beberapa kondisi terkadang kita tak bisa melihat sesuatu padahal benda tsb didepan mata kita, juga terkadang dalam beberapa kondisi kita tak bisa mendengar kan sesuatu padahal telinga kita tak ada masalah, maka kesimpulan kebalikan nya, Allah maha melihat walau tanpa organ tubuh seperti bola mata dan lainnya, sebagaimana Allah maha mendengar tanpa harus berorgan telinga dan lainnya, karena betapa banyak yg memiliki organ tubuh seperti mata dan telinga ternyata tidak bisa melihat juga mendengar. 

Pernyataan diatas juga bisa diperkuat dengan menggunakan logika sederhana manusia yg masih di atas fitrah, karena secara fitrah manusia yang masih lurus ditambah dengan bekal nalar yang sehat, akan menolak semua paham tajsim kepada Allah, tak percaya? 
Silahkan buat proposisi logika sederhana, pasti hasilnya (natijah nya) menunjukkan Allah Tuhan yg tidak berjism;

"Jika makhluk tersusun dan beranggota tubuh (jism), sedangkan Allah bukan makhluk, berarti Allah tidak tersusun dan tidak beranggota tubuh (jism)" 

Berikut nya, bahwa ayat diatas benar-benar menunjukan ketidak serupaan Allah dengan sesuatu apa pun yang ada di alam semesta ini, itu bisa dilihat dari pemilihan bentuk kalimat"شيء" syai'un yang berbentuk "نكرة" nakirah, yang dimana ia disebutkan setelah urutan kalimat yang berbunyi النفي atau peniadaan, maka peniadaan disini berlaku secara global dan umum sehingga pemahaman secara keseluruhan dari ayat diatas adalah;

"ALLAH TIDAK  SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPA PUN YANG ADA DI ALAM SEMESTA INI"

Untuk lebih meyakinkan lagi bahwa Allah itu tidak serupa dengan apapun termasuk tidak beranggota tubuh, tidak tersusun dan semisal nya, itu bisa dibuktikan dari pemilihan lafadzh "مثل" Al mitsl yang tentu nya ini bukan sesuatu yang 'abats' atau sia-sia belaka tanpa ada hikmah, akan tetapi benar-benar  memiliki hikmah dan pesan yang ingin Allah tegaskan pada ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama pakar bahasa bahwa "المثل" Al mitsl, kalimat yang digunakan untuk menjelaskan sisi kemiripan dan keserupaan sesuatu dengan sesuatu yg lain secara keseluruhan (umum), Imam Fairuz Abadi dalam kitab: بصائر ذوي التمييز jilid ke 4 hal 481 menyebutkan:

لفظ المثل أعم الألفاظ الموضوعة للمشابهة، وذالك أن الند يقال فيما يشاركه في الجوهرية فقط، والشكل يقال فيما يشاركه في القدر والمساحة، والشبه يقال فيما يشاركه في الكيفية فقط، والمساوي يقال فيما يشاركه في الكمية فقط والمثل عام في جميع ذالك

"Lafazdh al mitsl adalah Lafazdh global yang di gunakan untuk mengungkapkan kesamaan secara keseluruhan dari semua sisi. Jika الند digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi esensi saja, dan الشكل digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi takaran dan ukuran saja, dan الشبه digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi bentuk rupa saja, dan المساوي digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi jumlah saja, maka المثل digunakan untuk menggambarkan kesamaan pada kesemuanya yg disebut kan diatas."

Maka kesimpulan nya ketika Allah ingin menegaskan bahwa Allah tak serupa dengan apapun dan siapapun, maka Allah memilih dan mengkhususkan المثل setelah kalimat nafyu النفي sehingga benar-benar menegaskan bahwa" ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPA PUN YG ADA DI ALAM SEMESTA INI"
Karena jika Allah serupa dengan makhluk, maka hilanglah sisi keTuhanan Allah yg seharusnya sebagai Tuhan memiliki perbedaan secara mutlak, jika Allah tidak bersifat dengan مخالف للحوادث maka Allah adalah bagian dari hawaadist, karena sesuatu yg tak lepas dari perubahan (حادث) maka dia adalah حادث

"ما لا يخلو من الحادث فهو حادث"

Dari sinilah kemudian membuktikan kebenaran akidah ahlus sunnah wal jama'ah, bahwa ALLAH SWT BENAR-BENAR TIDAK SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPAPUN yg ada di alam semesta ini.

Senin, 29 Juni 2020

"Klaim Dusta Wahabi"

"Klaim Dusta Wahabi"

Oleh; Zulfikar Harun Lc 
(Lulusan Madinah Al munawwarah) 

Seolah sudah menjadi tabiat "sebagian" wahabi adalah berbohong atas nama ulama-ulama aswaja, untuk melegalkan akidah yg mereka anut. Ditambah lagi dengan keanehan sebagian mereka yg menambah deretan kebiasaan buruk tsb adalah "selalu" merasa paling tahu segalanya. "Anti madzhab" akan tetapi selalu merasa paling memahami mekanisme dalam madzhab, anti dengan ahlus sunnah wal jama'ah, akan tetapi selalu merasa paling mengetahui apa yg diyakini oleh ulama-ulama aswaja dan apa saja jenjangan kurikulum kitab aswaja, lucu bukan! 

Diantara klaim dusta tsb adalah mengklaim bahwa Imam abul hasan al Asy'ari, meyakini Allah BERTEMPAT diatas langit dengan mengutip perkataan beliau di beberapa tempat misalnya dari kitab Al ibanah hal 405 (cetakan Darul Fadhilah) beliau berkata:

فإن قال قائل: ما تقولون في الاستواء؟ قيل له: نقول إن الله عز و جل مستو على عرشه...

Artinya:
"Jika seorang berkata, apa pendapat mu terkait istiwa? Kami jawab: Sesungguhnya Allah SWT beristiwa diatas Arsy" 
(Perlu diketahui kitab al ibanah ini selalu menjadi salah satu kitab pegangan wahabi makanya diawal saya belajar dimadinah pun buku yg awal-awal saya beli adalah Al ibanah ini, tujuannya apa? Untuk mencari pembenaran) 

Ibaroh di atas yaitu pernyataan imam abul hasan al Asy'ari, memang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia agak sedikit musykil (karena yg sedang beliau jelaskan diatas lebih kepada metode tafwidh yg di akui oleh aswaja sbg salah satu metode dalam memahami Ayat-ayat sifat, sehingga tidak nyambung bila diterjemahkan) seolah terkesan menunjukan bahwa Imam abul hasan al Asy'ari meyakini bahwa ALLAH BERTEMPAT. Akan tetapi alhamdulillah puji syukur kepada Allah yg telah menjadikan beliau benar-benar sebagai pembela akidah yg haq, sehingga apa yg beliau yakini dengan yg beliau tuliskan, selalu selaras dan tidak kontradiksi. 

Masih dalam kitab yg sama yaitu Kitab Al ibanah cetakan yg sama, hal 161 beliau sebutkan:

فليست له صورة تقال ولا حد...

"Dan Allah tidak berbentuk (shurah) sehingga bisa di visual kan juga Allah tidak berhadd (terbatas pada arah tertentu)" 

Pernyataan beliau diatas, cukup menjadi bukti yg sharih (jelas sekali, sejelas matahari di siang bolong) bahwa ALLAH TIDAK BERTEMPAT, karena jika Allah bertempat maka Allah akan terbatas pada salah satu diantara enam arah/berhadd. Sehingga pernyataan beliau diatas dengan mengatakan"ولا حد" "tidak terbatas", menegaskan "ALLAH ADA TAK BERTEMPAT" sekaligus menepis klaim dusta sebagian wahabi bahwa Imam Abul hasan al Asy'ari meyakini Allah bertempat. 

Ini juga bisa diperkuat dengan pernyataan beliau pada kitab yg lain yaitu "Maqalatul islamiyin" jilid I hal 281:

هذا شرح اختلاف الناس في التجسيم 
قد أخبرنا عن المنكرين للتجسيم أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

"Penjelasan ragam pandangan tentang tajsim (mengvisual Allah dalam bentuk dan rupa):
Telah kami sampaikan sebelumnya tentang  pendapat (ahlus sunnah dan ahli hadist) penolakan terhadap kaum tajsim, mereka berkata (ahlus sunnah dan ahli hadist);
Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (terbatas pada arah), tidak berjarak (sehingga punya batas akhir tujuan)" 

Setalah menyebutkan ragam pendapat mujassimah diatas, beliau melanjutkan, dengan menjelaskan sikap dan penolakan beliau yg mengatakan Allah BERTEMPAT, BERGERAK (termasuk naik turun), masih di kitab yg sama "Maqalatul islamiyin" jilid I hal 282 beliau berkata:

وقد ذكر عن بعض المجسمة أنه كان يثبت البارىء ملونا... وزعم أنه كان في مكان دون مكان، متحرك من وقت خلق الخلق.

Dan telah disebutkan pendapat dari sebagian Mujassimah, bahwa diantara mereka ada yg menetapkan bagi Allah warna (kulit) dan mereka meyakini bahwa ALLAH BERTEMPAT di suatu tempat tertentu yg tidak seperti dengan tempat(yg makruf), dan meyakini bahwa ALLAH BERGERAK sejak waktu penciptaan makhluk.

Apa yg beliau yakini diatas, sama persis dengan para ulama yg sezaman dengan beliau walau mungkin tidak pernah bertemu satu sama lainnya. Sebut saja Imam At thahawi, didalam kitab beliau yaitu "Akidah At thahawiyah" beliau sebutkan:

تعالى عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ولا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Fokus pada kalimat "تعالى عن الحدود"
Pada kalimat ini sangat jelas sekali bahwa apa yg diyakini oleh imam Abul hasan al Asy'ari, sama seperti yg diyakini oleh Imam At thahawi yaitu: "ALLAH TIDAK BERTEMPAT" karena lawaazim dari tempat adalah "hadd atau terbatas" dan hadd ciri dari makhluk, dan Allah tersucikan dari hal-hal tsb.

Begitu pun dengan apa yg diyakini oleh Imam Ahmad, bahwa ALLAH Maha tinggi (mulia) yg tidak BERTEMPAT apalagi terbatas pada arah tertentu, itu bisa di lihat dari penjelasan Imam Abul Wahid At tamimi (yg paling dekat zaman nya dengan Imam Ahmad, wafat pada tahun 410 H) beliau membawakan riwayat Imam Ahmad didalam kitab beliau "I'tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38;

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

" Dan Allah SWT tidak mengalami perubahan dan tidak terbatas oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy"

Dan ini cukup menjadi bukti bahwa Imam Abul hasan Al Asy'ari tidak pernah meyakini ALLAH BERTEMPAT sebagaimana klaim wahabi atas beliau, walau kitab Al ibanah ini sebagaimana kesaksian para ulama-ulama kita ada beberapa riwayat dan kalimat yg sama sekali bukan berasal dari pendapat Imam Abul hasan al Asy'ari namun sehabat apapun mereka yg "mentahrif" memalsukan beberapa riwayat tsb, mereka tak mampu untuk merubah keyakinan sang Imam.

Kesimpulan nya, bahwa keyakinan Imam Abul hasan al Asy'ari tidak pernah berubah sampai beliau wafat yaitu ALLAH ADA TANPA TEMPAT. Begitu juga apa yg diyakini oleh Ulama-ulama kita lainnya. Jadi keyakinan Aswaja adalah ALLAH ADA TAK BERTEMPAT, Allah sangat dekat dengan Hamba Nya, mengetahui setiap gerak gerik hamba bahkan mengetahui hal yg paling detail dan tersembunyi didalam hati, Allah selalu mengawasi para hamba Nya. Setidaknya kedekatan ALLAH dengan Hamba, membuat kita sbg hamba malu untuk melakukan maksiat, selihai apapun usaha kita untuk menyembunyikan dari pandangan manusia, tapi kita tak bisa menyembunyikan perbuatan kita dari pandangan dan pengawasan ALLAH, karena Allah sangat dekat dengan kita.

Sabtu, 13 Juni 2020

"Apakah mensucikan Allah membutuhkan dalil eksplisit"

"Apakah mensucikan Allah membutuhkan dalil eksplisit"?!

Oleh: Zulfikar Harun Lc 

Didalam alquran, Allah menyebutkan ayat yg berisi perintah untuk senantiasa "mensucikan" Nya, diantara perintah tsb adalah firman Allah SWT;
(سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى)

[Surat Al-A'la 1]

Artinya;

"Bertasbih lah (sucikan lah) nama Tuhan Mu (yaitu Allah) yg maha Tinggi (mulia)" 
Ayat diatas, menjadi semacam "rambu" bagi ulama ahlus sunnah wal jama'ah dalam membangun pemahaman "ber Akidah" bahwa mensucikan Allah itu harga mati, mutlak tak boleh di tawar. 

Maka adalah bagian dari mensucikan Allah sebagaimana kaidah ulama kita;
"Menetapkan apa-apa yg Allah tetap kan bagi Nya atau yg ditetapkan oleh Rasul Nya" 

karena semua yg ditetapkan Allah dan Rasul Nya itulah kesempurnaan yg mutlak, logika nya tentu Allah lah yg paling tahu yg pantas bagi Dzat Nya, pun sebaliknya, menafyikan atau meniadakan bagi Allah, sesuatu yg Allah tiadakan (nafyikan) bagi Nya atau yg di tiadakan (nafyikan) oleh Rasul Nya, atau sesuatu yg punya celah yg dapat mengurangi kesucian Allah, maka wajib tidak boleh di sematkan kepada Allah (nafyu). 

sehingga apa pun yg dapat mengurangi kesucian Allah walau itu "sempurna" jika di nisbat kan kepada manusia, maka harus di nafyikan, tidak boleh di tetapkan kepada Allah, meski tidak disebutkan didalam alquran maupun hadits Nabi, contohnya "bertempat" bagi Allah, dimana konsekuensi nya akan menghilangkan kesempurnaan Allah yg Maha Ghani (Maha Kaya, tidak membutuhkan apapun dan siapapun) juga seperti "mentepakan" anggota tubuh bagi Allah, tangan, kaki, wajah, mata, telinga dan sebagainya, dimana kesemuanya itu dapat menghilangkan kesempurnaan Allah yaitu Allah Maha Esa, Maha tunggal, karena jika Allah tersusun oleh anggota tubuh, maka dimana letak kesempurnaan Allah;

(لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)

[Surat Asy-Syura 11]

Allah tidak sama dengan makhluk. 
Dan jika Allah tersusun konsekuensi logis nya adalah membutuhkan yg menyusun Nya, ibarat seperti sebuah Lego yg tersusun menjadi sebuah rumah, pasti tersusun nya Lego tsb menjadi sebuah rumah tentu membutuhkan "yg menyusun nya" mustahil tiba-tiba tersusun dengan sendiri nya, begitu pun konsekuensi logis nya ketika "menetapkan" anggota tubuh bagi Allah. 

Maka bagi ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, ayat perintah mensucikan Allah diatas, menjadi rambu dalam menetapkan maupun menafyikan. Walau tidak disebutkan didalam alquran secara eksplisit (dalil rinci). 

Karena bagi Aswaja, ayat yg disebutkan didalam alquran terkait menafyikan atas Allah, bukan sebagai "pembatasan" akan tetapi itu sebagai "petunjuk/rambu" agar di jadikan sebagai petunjuk untuk memahami mana yg layak dan mana yg tidak layak bagi Allah dengan menggunakan "Akal sehat". 

Apakah bisa akal menuntun kita untuk mengetahui mana yg layak dan tidak layak bagi Allah? 

Sangat bisa! 

Begini, didalam akal setiap manusia, Allah lengkapi dengan kemampuan membedakan mana yg baik dan mana yg buruk, sehingga manusia tahu dan akan merasa bersalah jika dia melakukan sesuatu yg tidak baik, seperti mencuri, membunuh, dan berzina, maka untuk mengetahui ini buruk, manusia mampu mengetahui nya dengan akal sehat yg masih diatas fitrah. Dalam fiqh ini disebut sebagai "Akal taklifi" kemampuan untuk memahami sesuatu, yg dimana kemampuan ini Allah berikan sama rata bagi manusia, tidak ada yg dilebih kan mau dia berprofesi sebagai dosen atau petani semua sama, sama-sama memiliki kemapuan diatas. 

Demikian juga dalam kajian Tauhid, ada hukum akal yg sudah menjadi "kesepakatan semua orang yg berakal", bahwa hukum aqli itu terbagi menjadi tiga:

1. Wajib (sesuatu yg mustahil tidak dimiliki/sesuatu yg wajib di miliki, contoh sifat "Ada" bagi Allah, sifat ini wajib harus ada bagi Allah, karena kalau tidak maka alam semesta ini juga seharusnya tidak ada, namun karena realita nya alam semesta ini ada maka bagi Allah Sang Pencipta, wajib memiliki sifat "Ada") 

2. Mungkin/jaiz (boleh) (maksudnya bagi Allah boleh saja Allah melakukan sesuatu sebagaimana boleh bagi Allah tidak melakukan Nya (af'al) karena tak ada satu pun yg bisa memaksa Allah apalagi mewajibkan. Bagi Allah berbuat sekehendak Nya sebagaimana Allah berbuat semau Nya) 

3. Mustahil (sesuatu yg mustahil ada pada Allah, misalnya bertubuh/jism tersusun dan semisal nya, kenapa menjadi mustahil bagi Allah, karena sifat Wajib bagi Allah yaitu Allah maha Qadim, maka menetapkan bahwa Allah bertubuh, bertangan berkaki, berarti sama dengan menetapkan sesuatu yg haadist/baru bagi Allah, dan ini tentu bertentangan dengan sifat Qadim Allah) 

Dengan menggunakan kaidah dasar berlogika diatas, maka diterapkan oleh ulama-ulama kita, ketika mereka  menafyikan sesuatu bagi Allah yg tak pantas. Sehingga sesuatu yg berindikasi "ketidak layakan" bagi Allah menurut timbangan hukum berlogika diatas, harus di nafyikan, dibuang jauh-jauh dan tak boleh di tetapkan bagi Allah, walau tidak disebutkan didalam Alquran.

Dan ini selaras dengan apa yg di praktekan oleh para Nabi dan Rasul ketika berdakwah kepada kaum nya yg tidak beriman kepada Allah, contoh ril nya sebagaimana yg disebutkan Allah didalam alquran kisah Nabi Ibrahim ketika mendakwahi kaum "paganisme" (penyembah bintang bulan dan matahari) Allah berfirman;

(فَلَمَّا جَنَّ عَلَیۡهِ ٱلَّیۡلُ رَءَا كَوۡكَبࣰاۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّیۖ فَلَمَّاۤ أَفَلَ قَالَ لَاۤ أُحِبُّ ٱلۡـَٔافِلِینَ)

[Surat Al-An'am 76]

Artinya;
"Ketika datang malam, Nabi Ibrahim melihat bintang, Nabi Ibrahim berkata; ini Tuhan ku, namun ketika hilang bintang-bintang tsb, Nabi Ibrahim berkata: saya tidak menyukai sesuatu yg hilang"

Ayat diatas menarik karena berisi dialog Nabi Ibrahim dengan kaum paganisme, metode Nabi Ibrahim mendakwahkan Tauhid kepada mereka adalah menggunakan pendekatan akal sehat. 

Dimana menurut Nabi Ibrahim, bahwa jika benar bintang-bintang itu adalah Tuhan, maka seharusnya Tuhan itu tidak mengalami "perubahan" yaitu bermakna hilang atau terbenam ketika fajar datang.

Maka Bagi yg berakal sehat tentu akan menerima kenyataan demikian bahwa Tuhan itu tidak boleh mengalami perubahan, karena kalau Tuhan mengalami perubahan, maka dia akan berubah seiring waktu berjalan, akan menua, maka sifat "taghayyur" mengalami perubahan tak layak bagi Tuhan.

Dan inilah yg di ikuti oleh ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, dalam hal menafyikan "perubahan" bagi Allah dengan menetapkan sifat "Baqaa".

Namun berbeda dengan kelompok sempalan Wahabi mujassimah/musyabbihah. Untuk melegalkan paham Tajsim mereka, mereka akan mengelak dengan berdalih; di dalam alquran maupun hadits kan tidak di tiadakan (nafyi) kata-kata jism!, ketika kita sebagai Aswaja mengatakan kepada mereka tidak boleh menetapkan bahwa ALLAH bertubuh.

Namun sayangnya, mereka tidak konsisten dengan "metode" mereka sendiri yaitu membatasi apa yg di tiadakan didalam alquran. 

Contoh nya ketika mereka "menafyikan bagi Allah, rasa lapar, haus, sakit" padahal Allah tidak menafyikan yg demikian secara rinci (eksplisit) baik di dalam alquran maupun hadits Nabi, walau ini sebenarnya selaras dengan keyakinan Ahlus sunnah wal jama'ah, hanya saja mereka tidak konsisten. Ini menunjukkan bahwa wahabi mujassimah dan musyabbihah adalah "pengikut hawa nafsu" memilih yg sesuai dengan selera nya dan membuang yg tidak sesuai dengan selera.

Mari kita simak perkataan salah seorang syeikh rujukan wahabi yaitu Syeikh Bin Baaz, ketika menjelaskan hadits qudsi yg diriwayatkan oleh Imam Muslim;

قال: قال رسول الله ﷺ: إن الله يقول يوم القيامة: يا ابن آدم، مرضت فلم تعدني، قال: يا رب، كيف أعودك وأنت رب العالمين؟ قال: أما علمت أن عبدي فلانًا مرض فلم تعده؟ أما عtعن أبي هريرة لمت أنك لو عدته لوجدتني عنده، يا ابن آدم استطعمتك فلم تطعمني، قال: يا رب، كيف أطعمك وأنت رب العالمين؟ قال: أما علمت أنه استطعمك عبدي فلان فلم تطعمه، أما علمت أنك لو أطعمته لوجدت ذلك عندي، يا ابن آدم استسقيتك فلم تسقني، قال: يا رب، كيف أسقيك، وأنت رب العالمين؟ قال: استسقاك عبدي فلان فلم تسقه، أما علمت أنك لو سقيته لوجدت ذلك عندي، رواه مسلم. 

Artinya;
Ketika kiamat nanti Allah berfirman kepada Hamba Nya;
"Hai anak Adam, Aku sakit, kau tidak menjenguk-Ku. Orang itu berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan alam semesta? Allah menjawab: Apakah kau tidak tahu hamba-Ku si Fulan sedang sakit tapi kau tidak mau menjenguknya. Andai saja kau menjenguknya, kau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan, tetapi kau tidak mau memberi-Ku makan. Dia berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang Engkau Tuhan alam semesta? Allah berfirman: apakah kau tidak tahu hamba-Ku, si Fulan, meminta makan kepadamu, tetapi kau tidak memberinya makan. Ingatlah, sekiranya kau memberinya makan, kau akan menemukan Aku di sana. Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi kau tak memberi-Ku minum. Dia berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan Pemilik alam semesta? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi kau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya kau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. (H. R. Muslim )

Hadits diatas, tidak ada masalah bagi ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, karena lapar, haus, sakit, memang secara logika akal sehat manusia, tidak boleh di sematkan kepada Allah karena selain tak pantas bagi Allah, juga mustahil bagi akal seorang manusia, Tuhan kemudian lapar haus apalagi sakit, namun bagi wahabi, ketika terdesak, maka mereka tidak sungkan dan tak tahu "malu" untuk menyelisihi kaidah yg mereka "buat", berkata Syeikh rujukan Wahabi, syeikh Bin Baz dalam kitab "Tanbihaat fi raddi 'ala man ta awwala ash shifaat hal 27-29";

فاعلم بذالك أن الله تعالى لم يمرض ولم يجع وإنما أراد سبحانه وتعالى من ذالك حث العباد على عيادة المريض وإطعام الجائع

Artinya:
"Ketahuilah, bahwa ALLAH itu tidak sakit, tidak lapar, hanya saja yg di inginkan oleh Allah bagi hamba Nya, memotivasi hamba Nya untuk senantiasa menjenguk saudara nya yg sedang sakit dan memberikan makan kepada yg kelaparan..."

Jadi, kita bisa melihat dan menilai siapa yg benar-benar mengikuti petunjuk alquran dan hadits Nabi, dan siapa kelompok sempalan pengekor hawa nafsu.


Rabu, 13 Mei 2020

"BERMADZHAB ITU=TAHU DIRI"

"Bermadzhab itu = Tahu diri" 

✒ Tulisan ini sebenarnya lebih kepada, tanggapan atau sikap kami terhadap fenomena yg membid'ahkan taqlid kepada ulama madzhab alasannya bahwa perkataan mereka bisa benar dan bisa salah, adapun alquran dan sunnah jelas tak mungkin salah. Pernyataan Ini sangat keliru dan fatal. Karena dari pernyataan diatas, muncul masalah baru yaitu muncul nya orang-orang yg berijtihad namun tidak memiliki kapasitas yg memadai untuk berijtihad. 

Sebelum jauh membahas, sebenarnya tema diatas yaitu madzhab dan taqlid, bukanlah sesuatu yg baru, bahkan topik diatas sudah pernah dibicarakan dan dibahas oleh Ulama kita jauh sebelumnya. Akan tetapi penempatan topik tsb menjadi satu karya yg mustaqillah (tersendiri) belum terpenuhi, sehingga pembahasan tsb hanya bisa didapati dalam karya mereka secara umum dalam kajian ushul Fiqh. 

Hal ini berjalan kurun waktu yg lama, sampai datanglah Imam As suyuuuthi (Radhiyallahu 'anhu) menulis nya dalam satu karya ilmiah secara terperinci yaitu yg kita kenal dengan kitab "Taqrirul istinad fi tafsiril ijtihad" juga karya beliau yg lain dengan tema yg sama "Irsyadul muhtadin ila nushratil mujtahidin". 

Setelah sepeninggalan beliau lahirlah para ulama yg konsen mengkaji topik diatas yaitu masalah madzhab dan taqlid. Disana ada seorang Imam yg terkenal dengan Mulla Farruukh beliau menulis karya yg cukup terkenal "Al Qaulus sadid fi ba'dhi masaailil ijtihad wat taqlid", dan seterusnya. Dari sinilah kemudian bisa kita pahami bahwa warisan taqlid kepada ulama bukan sesuatu yg baru, yg dimana sebagian diantara kita justru masih menganggap hal tsb sebagai sesuatu yg tabu. 

Para ulama kita, berusaha mendudukan permasalahan ini, dengan membagi mukallaf secara umum menjadi 2 golongan:

Pertama Muqollid, dimana kewajiban nya hanyalah mengikuti para Alim dan aimmah madzaahibul arba'ah, yaitu mereka yg secara kapasitas belum terpenuhi syarat ijtihad karena belum menguasai Ilmu-ilmu alat yg bisa membantunya untuk beristinbath. 

Kedua: Mujtahid, seorang yg telah terpenuhi syarat-syarat ijtihad yaitu penguasaan nya terhadap alat-alat yg membantu nya dalam berijtihad, Kewajiban mereka adalah berijtihad memberikan satu kesimpulan hukum kepada para awam. 
[ Syarhul kabir li mukhtashar min ilmil ushul halaman 631]

Kesimpulan dari pembagian umum diatas adalah, bahwa orang-orang yg belum terpenuhi syarat ijtihad, atau belum memadai kapasitas nya untuk berijtihad, maka ia masuk kedalam golongan awam. Dan kewajiban seorang awam adalah taqlid dan bukan berijtihad, alasannya karena dikhawatirkan ijtihad nya akan memberikan konsekuensi kepada ta'tsim atau berdosa nya orang tsb ketika ijtihad nya salah.

Para ulama kita jauh hari, telah menjelaskan secara rinci tentang hukum taqlid kepada ulama kita, terkhusus dalam masalah furu'iyah. Dan menjelaskan kepada kita bahwa salah satu diantara sisi positif taqlid (mengikuti) ulama kita adalah menjauhkan kita dari terjatuh pada masalah talfiiq (menggabungkan beberapa pendapat ulama dalam satu ibadah untuk mencari-cari rukhshoh atau keringanan) ketimbang mereka yg tidak bermadzhab, lebih rentan terjatuh pada masalah talfiiq ini. Sebelum kami membahas masalah talfiiq, kami ingin mengutip perkataan diantara ulama kita, dan tanggapan nya dalam masalah taqlid.

Imam Abu bakar bin Ahmad, atau yg terkenal dengan gelar khathib al baghdadi, mempunyai karya tulis di bidang ushul Fiqh yg sangat dibutuhkan oleh para penuntut ilmu dan Duat, agar "tahu diri" dan bisa menempatkan posisinya sesuai dengan kapasitas nya. 

Dalam kitab "Alfaqih wal mutafaqqih" ada satu bab khusus yg berbicara tentang masalah muqollid dan hukum taqlid.

Beliau menjelaskan bahwa diantara definisi global tentang makna muqollid adalah:

قبول القول من غير دليل 

Menerima perkataan tanpa harus mengetahui dalil (terlebih dahulu). 
[Al faqih wal mutafaqqih_539]

Didalam bab ini beliau menjelaskan bahwa hukum yg berkaitan dengan taqlid itu ada 2 hal, yg pertama yg berkaitan dengan perkara 'aqliyah (aqidah) yg dimana tidak boleh seseorang taqlid pada orang lain dikarenakan kita semuanya diberikan akal sehat sehingga kewajiban kita adalah mencari kebenaran dengan menggunakan akal sebagai media tafakkur. 

Kedua, yg berkaitan dengan hukum syar'i dimana beliau membagi menjadi dua perkara;

1) yg berkaitan dengan sesuatu yg wajib diketahui oleh kaum muslimin pada umumnya, "ma'lumun minad din bidharurah" seperti kewajiban sholat lima waktu, Kewajiban membayar zakat, Kewajiban berpuasa dibulan ramadhan, haramnya zina dan khamar, dalam hal ini tidak boleh taqlid kepada siapa pun karena, hal yg disebutkan adalah jelas dan wajib diketahui oleh seluruh kaum muslimin. 

2) hukum yg membutuhkan kajian detail/an nadzhor wal istidlal. Seperti kaifiyah (teknis), juga yg berkaitan dengan masalah furu'iyah dalam ibadah dan mua'malah. Maka dalam masalah ini wajib untuk taqlid kepada yg berilmu.

Maka kewajiban seorang awam dalam perkara yg berkaitan dengan Ahkam syar'iyah adalah wajib baginya untuk mengikuti para Alim dan aimmah madzaahibul arba'ah, dengan dalil;

فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.

Sebagaimana yg telah kami singgung, bahwa yg tidak bermadzhab itu lebih rentan jatuh kepada masalah talfiiq ketimbang mereka yg memilih untuk taqlid kepada salah satu Imam 4 madzhab.

Bagaimana pandangan ulama kita tentang orang-orang yg talfiiq.
Banyak sekali perkataan ulama tentang definisi talfiiq itu sendiri, namun ada 2 definisi yg mewakili substansi dari beberapa definisi yg ada:

Pertama ulama Hanafiyah mendefinisikan Talfiiq dengan;

تتبع الرخص عن الهوى
Mencari-cari keringanan atas dasar hawa nafsu.

Kedua;

الإتيان بكيفية جديدة لا يقول بها أحد من المجتهدين السابقين

Mendatangkan tatacara baru, yg tidak pernah di katakan oleh satu pun dari Ulama Mujtahidin sebelumnya.

Gambaran dari talfiiq, jika seorang muslim hendak menunaikan sholat, namun berwudhu dengan mengambil pendapat nya Imam Syafii dengan mengusap sebagian rambut, namun setelah berwudhu muslim tsb bersentuhan dengan wanita ajnabiyah atas dasar pendapat Imam Abu Hanifah, kemudian setelah itu sholat, maka sepakat ulama mengatakan sholat nya tidak sah. 

Ada 2 pendapat yg masyhur dalam masalah ini, pendapat Jumhur Ulama empat Imam yg mengatakan Haram nya talfiiq, dikarenakan kecenderungan kepada mencari-cari kemudahan berdasarkan hawa nafsu semata, dengan pendapat sebagian ulama yg membolehkan, namun dengan beberapa syarat yg harus dipenuhi, inti dari dua pendapat ini sebenarnya dari sisi substansi nya sama, yaitu sama-sama tidak membolehkan secara hukum asalnya, walaupun dari segi lafzd mereka berbeda satu sama lainnya. 

Diantara Dalil larangan Jumhur Ulama;

1) Ijma' Ulama yg melarang talfiiq, ini bisa dilihat dari kutipan fatwa Taqiyuddin As subki dalam kitab nya "Fatawa Taqiyuddin As subki jilid 1 halaman 147" juga dalam kitab nya Imam Syausyaawi "Raf'un Niqaab hal 52 jilid ke 6"

2) Para ulama jika ditanya tentang masalah sholat nya seorang yg malakukan talfiiq, mereka sepakat dengan serentak menjawab Tidak sah sholat orang tsb. Ini bisa dilihat dalam kitab nya Imam Al Qarafi "Al Ihkaamul fi tamyiizi fatawa 'anil Ahkam hal 233-234" dan juga bisa di dapati pendapat tsb dalam kitab nya Ulama kontemporer Syeikh Habah az zuhaili yaitu "Al Akhzdu bi rukhshoh Asy syar' iyah" 

3) cenderung kepada merusak syariat itu sendiri, dan terkesan tala'ub dengan hukum Allah. 

Inilah beberapa penjelasan Ulama mengenai Talfiiq itu sendiri, dimana sepakat empat Imam madzhab tentang larangan dan pengharaman terhadap talfiiq. 

Orang yg memilih tidak bermadzhab sangat besar peluang nya terjatuh pada masalah talfiiq. Yg membolehkan kita berpindah dari satu pendapat ke pendapat yg lain adalah dalil, sedangkan dalil tidak hanya sekedar dilihat dari ke validan semata, pun tidak pula sekedar mengerti bahasa Arab, namun bagaimana bisa mengolah dalil tsb dengan baik, dengan Ilmu-ilmu alat yg dapat membantu nya dalam memahami dalil-dalil tsb.

Sedangkan Orang yg bermadzhab, selain lebih kecil peluang nya dari ketergelinciran pada masalah talfiiq, karena rujukan mereka jelas. 

Pun itu salah satu pengikraran kita bahwa seharusnya kita yg belum memenuhi syarat untuk menjadi seorang Mujtahid, harus tahu diri, sehingga tidak bermudah mudah dalam berkata terhadap sesuatu yg tidak diketahui nya. 

Tulisan ini bukan mengajak kita untuk ghuluw apalagi ta'asshub kepada para Imam, tapi lebih kepada mengajak agar kita tahu diri dan sadar dimana posisi kita dalam agama ini. 

Wallahu a'lam.

✒ Zulfikar Harun

Jumat, 10 April 2020

Allah tidak di dalam Alam, Allah tidak juga di luar Alam=Allah tidak Ada?!







Allah tidak di dalam Alam, Allah tidak juga di luar Alam=Allah tidak Ada?!

Oleh; Zulfikar Harun Lc (Alumni Universitas Islam Madinah)

Pernyataan diatas merupakan kesimpulan para mujassimah dan musyabbihah yg dikarenakan "keterbatasan nalar" untuk memahami akidah ahlus sunnah wal jama'ah. Padahal jelas sekali bahwa keberadaan Allah, wujud Allah tidak "membutuhkan" media, baik itu tempat, maupun fisik, karena Allah benar-benar tidak serupa dengan siapapun dan apapun yg ada di alam semesta ini, baik itu yg bertubuh ataupun sifat saja/al 'aradh seperti panas, dingin, warna, gerak, diam, perasaan bahagia dll, maka jika makhluk bertubuh maka Allah tidak demikian, kalau makhluk ber' aradh maka Allah tidak demikian karena Allah bukan jism, bukan juga 'aradh.

Kembali ke pernyataan diatas? Apakah Allah tidak didalam alam, tidak diluar alam sama dengan Allah tidak ada? Benar kah logika ini? Ternyata logika ini keliru. Karena, hakikat dari pertanyaan bahwa ALLAH tidak didalam alam juga tidak diluar alam sebenarnya menafyikan (meniadakan) tempat bagi Allah, dan bukan meniadakan "wujud" Allah.

Pernyataan diatas, jika ditarik kedalam kajian bahasa Indonesia justru sudah benar yaitu "Allah tidak didalam alam juga tidak diluar alam", sama seperti jika kita katakan bahwa; "ahmad itu kulit nya tidak hitam, juga tidak putih". Apakah kita katakan bahwa Ahmad itu tidak punya warna kulit? Hanya orang-orang yg tidak pernah belajar bahasa yg menyimpulkan demikian, karena yg ditiadakan hanya warna nya yg tidak hitam juga tidak putih dan bukan kulit nya.

Pun dalam pembahasan dasar ilmu manthiq (logika), tak ada yg salah dari logika diatas apalagi akidah /keyakinan.
Bagi pembelajar/santri yg sudah pernah mengkhatamkan buku manthiq tingkat pemula, pasti pernah bersinggungan dengan pembahasan "taqaabul al al fazdh" (kata-kata yg berlawanan) karena pembahasan ini, termasuk pembahasan yg sangat dasar sekali ibarat kajian anak sekolah dasar.
Memang benar, bahwa dua hal yg berlawanan itu logika nya tidak bisa terkumpul dalam satu waktu, pun juga tidak bisa kedua keduanya ditiadakan dalam waktu yg bersamaan karena harus ada yg mendominasi. Sama seperti kerancuan akidah mujassimah yg dimana disatu waktu, mengatakan Allah "turun(bergerak)" dengan dzat nya ke langit dunia di sepertiga malam, namun secara bersamaan mereka juga telah menetapkan secara lawaazim Allah juga "naik (dan diam/duduk diatas arsy)" ke langit lagi. Ini dua hal yg bertentangan, tidak bisa diterima oleh akal, apalagi diterima oleh iman, (iman dan akal sejati nya tak pernah bertentangan satu sama lain,) karena telah mengumpulkan dua hal yg bertentangan dalam satu waktu, ibarat kerancuan orang yg berkata bahwa "air dan api bisa dikumpulkan dalam satu waktu secara bersamaan" yg dimana tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Adapun berlawanan secara positif, itu bisa, walau memang tidak bisa dikumpulkan, namun masih bisa dipisahkan satu sama lain dan dipahami oleh akal kita dengan menggunakan wasilah kalimat salb negatif/tidak, contoh ketika kita katakan "ahmad itu hitam dan putih" dari pernyataan ini tidak bisa dipahami, karena memang bertentangan, namun jika kita pisahkan menggunakan "tidak" maka itu bisa dipahami dengan baik, "Ahmad tidak hitam juga tidak putih" sebagaimana kita bisa memahami dengan baik bahwa "Allah tidak didalam alam, juga tidak diluar alam", untuk menetapkan bahwa ALLAH ada tidak bertempat, dan tidak membutuhkan tempat sehingga Allah tidak didalam alam (yg berarti bertempat) juga tidak diluar alam (juga berarti tempat)

Mari pelajari akidah yg murni, akidah ahlus sunnah wal jama'ah, akidah yg kokoh yg dibangun diatas logika yg lurus yg sejalan dengan dalil dan wahyu.

Keterangan;

Alam=mencakup bumi, langit dan isi nya.

Mujassimah=sekte sempalan yg meyakini Allah berjism, meyakini Allah bertubuh, atau tersusun oleh anggota tubuh, atau meyakini Allah bertempat dan menolak dalil aqli.

'aradh=sifat, yg dimana ia tidak bisa nampak kecuali dengan media/fisik. Contohnya gerak, dia tak kasat kecuali dengan media seperti tubuh manusia misalnya.