"Memahami ayat (لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)"
Oleh: Zulfikar Harun Lc
Ayat diatas salah satu diantara deretan ayat yang menegaskan secara gamblang lagi lugas bahwa Allah benar-benar tidak menyerupai apapun dan tak ada satu dari "apapun" yang menyerupai Nya.
Penegasan ayat diatas bahwa Allah tidak serupa dengan apapun tentu bukan sekedar klaim belaka, akan tetapi dipertegas dengan pemahaman dibalik susunan ayat diatas yang berkesesuaian dengan kaidah tata bahasa dan ilmu retorika bahasa Arab yg disampaikan Allah melalui Ayat ini (bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah).
Para ulama pakar bahasa mencoba menjelaskan pesan yang disampaikan di balik ayat ini untuk membuktikan secara ilmiah bahwa Allah benar-benar tidak serupa dan tidak menyerupai siapa pun dan apapun bahwa "terkumpul nya" kalimat yg disinyalir sebagai alat tasybih (menyamakan sesuatu) yaitu huruf "kaf" (الكاف) dan "Mistl" (مثل) pada kalimat nafyu ليس (peniadaan) menunjukkan bahwa "meniadakan tasybih (yaitu ke tidak serupaan) bahkan pada batasan yang paling kecil sekalipun".
Artinya apa? Bahwa Allah SWT benar-benar tidak menyerupai dengan apapun, dan siapa pun yang ada di alam semesta ini.
Ada kelompok yang mencoba mengkompromikan ayat diatas dengan pemahaman nya, tujuannya untuk melegalkan paham sesat "tajsim dan tasybih" yaitu dengan mengatakan;
"bukan nya ayat diatas menegaskan justru Allah punya kesamaan dengan makhluk pada closing dari ayat tsb yaitu وهو السميع البصير" Dan Allah Maha mendengar juga Maha melihat?!
Maka kita jawab;
Makna "Al mitsl" jika benar bermakna "Sifat" maka tak ada yg bertentangan dengan keyakinan ahlus sunnah wal jama'ah bahwa "Allah itu bukan jism dan Allah tidak menyerupai apapun dan siapapun" dengan dipahami bahwa اشتراك "keikut sertaan" sifat Allah, maha mendengar dan maha melihat, bukan berarti "menyerupai" sifat melihat dan mendengar nya makhluk secara hakikat, bukti paling ril nya, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh Nabi bahwa di surga kelak banyak hal termasuk buah-buahan yg secara lafzdhz itu ada kesamaan (musytarak) dengan lafzdhz beberapa buah yg di kenal di dunia, namun hakikatnya? Tidak serupa! Sebagaimana yg ditegaskan oleh Nabi sendiri. Lalu apa hikmah dibalik kesamaan (musytarak) lafzdhz beberapa buah surga dengan buah di dunia? Agar memudahkan manusia untuk memahami nya. Harapan Nabi agar tidak ada satu pun yang menyangka bahwa surga itu hanya "khayali/hayalan" belaka sehingga mengingkari keberadaan surga. Akan tetapi dengan menetapkan nama secara lafzdhzi menunjukkan bahwa surga itu nyata. Sederhana nya sesuatu yg ada pasti punya nama dan sifat.
Begitu juga dengan sifat Allah dengan menggunakan lafzdhz yang dipahami oleh manusia, tujuan nya agar tak ada yg menyangka bahwa Allah itu hanya "hayalan" manusia saja (sebagaimana tuduhan syeikh ibnu Taimiyah terhadap ahlus sunnah wal jama'ah tentang konsep Tuhan yang hanya khayali atau hayalan).
Sehingga dari pemahaman ini lahir lah satu kaidah yang masyhur;
الاشتراك اللفظي لا يدل على الاشتراك الحقيقي
"keikut sertaan pada kesamaan lafzdhz tidak selalu menunjukkan kesamaan hakikat"
Juga melihat dan mendengar nya Allah tidak serupa dengan melihat dan mendengar nya makhluk. Jika makhluk melihat dan mendengar membutuhkan organ bantu berupa bola mata, cahaya dan lainnya, sebagaimana mendengar nya makhluk membutuhkan organ berupa telinga, gendang, gelombang suara dan lain nya, maka melihat dan mendengar nya Allah SWT tidak serupa dengan makhluk. Mendengar nya Allah tak membutuhkan alat sebagaimana melihat nya Allah tak membutuhkan bola mata.
Kok bisa mendengar dan melihat tanpa telinga dan bola mata?! Sangat bisa, dan itu makin terbukti dengan keberadaan sains hari ini! Belum paham juga? Baik, itu bisa di buktikan dengan memahami kebalikan nya, maksudnya? Sebagaimana dalam beberapa kondisi terkadang kita tak bisa melihat sesuatu padahal benda tsb didepan mata kita, juga terkadang dalam beberapa kondisi kita tak bisa mendengar kan sesuatu padahal telinga kita tak ada masalah, maka kesimpulan kebalikan nya, Allah maha melihat walau tanpa organ tubuh seperti bola mata dan lainnya, sebagaimana Allah maha mendengar tanpa harus berorgan telinga dan lainnya, karena betapa banyak yg memiliki organ tubuh seperti mata dan telinga ternyata tidak bisa melihat juga mendengar.
Pernyataan diatas juga bisa diperkuat dengan menggunakan logika sederhana manusia yg masih di atas fitrah, karena secara fitrah manusia yang masih lurus ditambah dengan bekal nalar yang sehat, akan menolak semua paham tajsim kepada Allah, tak percaya?
Silahkan buat proposisi logika sederhana, pasti hasilnya (natijah nya) menunjukkan Allah Tuhan yg tidak berjism;
"Jika makhluk tersusun dan beranggota tubuh (jism), sedangkan Allah bukan makhluk, berarti Allah tidak tersusun dan tidak beranggota tubuh (jism)"
Berikut nya, bahwa ayat diatas benar-benar menunjukan ketidak serupaan Allah dengan sesuatu apa pun yang ada di alam semesta ini, itu bisa dilihat dari pemilihan bentuk kalimat"شيء" syai'un yang berbentuk "نكرة" nakirah, yang dimana ia disebutkan setelah urutan kalimat yang berbunyi النفي atau peniadaan, maka peniadaan disini berlaku secara global dan umum sehingga pemahaman secara keseluruhan dari ayat diatas adalah;
"ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPA PUN YANG ADA DI ALAM SEMESTA INI"
Untuk lebih meyakinkan lagi bahwa Allah itu tidak serupa dengan apapun termasuk tidak beranggota tubuh, tidak tersusun dan semisal nya, itu bisa dibuktikan dari pemilihan lafadzh "مثل" Al mitsl yang tentu nya ini bukan sesuatu yang 'abats' atau sia-sia belaka tanpa ada hikmah, akan tetapi benar-benar memiliki hikmah dan pesan yang ingin Allah tegaskan pada ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama pakar bahasa bahwa "المثل" Al mitsl, kalimat yang digunakan untuk menjelaskan sisi kemiripan dan keserupaan sesuatu dengan sesuatu yg lain secara keseluruhan (umum), Imam Fairuz Abadi dalam kitab: بصائر ذوي التمييز jilid ke 4 hal 481 menyebutkan:
لفظ المثل أعم الألفاظ الموضوعة للمشابهة، وذالك أن الند يقال فيما يشاركه في الجوهرية فقط، والشكل يقال فيما يشاركه في القدر والمساحة، والشبه يقال فيما يشاركه في الكيفية فقط، والمساوي يقال فيما يشاركه في الكمية فقط والمثل عام في جميع ذالك
"Lafazdh al mitsl adalah Lafazdh global yang di gunakan untuk mengungkapkan kesamaan secara keseluruhan dari semua sisi. Jika الند digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi esensi saja, dan الشكل digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi takaran dan ukuran saja, dan الشبه digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi bentuk rupa saja, dan المساوي digunakan untuk menggambarkan kesamaan dari sisi jumlah saja, maka المثل digunakan untuk menggambarkan kesamaan pada kesemuanya yg disebut kan diatas."
Maka kesimpulan nya ketika Allah ingin menegaskan bahwa Allah tak serupa dengan apapun dan siapapun, maka Allah memilih dan mengkhususkan المثل setelah kalimat nafyu النفي sehingga benar-benar menegaskan bahwa" ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN APA PUN DAN SIAPA PUN YG ADA DI ALAM SEMESTA INI"
Karena jika Allah serupa dengan makhluk, maka hilanglah sisi keTuhanan Allah yg seharusnya sebagai Tuhan memiliki perbedaan secara mutlak, jika Allah tidak bersifat dengan مخالف للحوادث maka Allah adalah bagian dari hawaadist, karena sesuatu yg tak lepas dari perubahan (حادث) maka dia adalah حادث
"ما لا يخلو من الحادث فهو حادث"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar