Selasa, 04 Agustus 2020

"AKAL DALAM PERSPEKTIF ASWAJA"


"AKAL DALAM PERSPEKTIF ASWAJA" 

Oleh: Zulfikar Harun Lc 

Diantara kelebihan akidah aswaja, ushulul i'tiqad nya dibangun diatas dua dalil kokoh yang saling menguatkan satu sama lainnya. Balance dari kedua dalil ini yg kemudian membuat akidah aswaja menjadi tahan banting, dan sangat teruji secara ilmiah. 

Ini bisa dibuktikan dari keselarasan, juga ke seimbangan antara ayat-ayat Tuhan (dalil Naqli) dengan nalar manusia (dalil aqli) yang dimana di tangan para ulama Aswaja menjadi tidak berbenturan, kontradiksi antara naqli dan aqli, apalagi sampai fallacy. 

Bagi Aswaja ayat-ayat Tuhan dan nalar manusia tidak semestinya saling berbenturan dan kontradiksi. Meletakkan Ayat-ayat Tuhan pada urutan pertama tanpa mengabaikan peran nalar manusia, juga tidak menjadikan satu-satunya akal sebagai landasan utama dalam menilai suatu kebenaran tanpa melibatkan wahyu. 
Karena bagi aswaja ayat-ayat Tuhan itu bukan teks kosong yang tak bermakna. Maka sesuatu yang bermakna tentu tak bisa dipahami kecuali melalui akal dan nalar manusia, sebagaimana akal tidak bisa berjalan sendiri tanpa bimbingan wahyu. 

Namun ini sangat kontras dengan beberapa sekte sesat lagi menyesatkan yg dimana tidak proporsional dalam menempatkan kedua dalil tersebut. Sekte sesat mu'tazilah yang terlalu men Tuhan kan akal sebagai satu-satunya penentu kebenaran, sehingga dari keyakinan ini lahirlah konsep "etika" dan "estetika" (التحسين والتقبيح) yang mana menurut mereka, baik dan buruk nya sesuatu, berpahala dan berdosa nya suatu perbuatan, mampu dinalar oleh akal manusia.

Demikian juga kelompok SESAT lagi MENYESATKAN  MUJASSIMAH dan MUSYABBIHAH yang dimana telah "MENGUBUR HIDUP -HIDUP PERAN AKAL DAN NALAR MANUSIA" bagi mereka, akal tak terlalu diperlukan dalam memahami ayat-ayat Tuhan. Sehingga wajarlah untuk kelompok ini, pasti akan kita temui banyak hal yang kontradiksi, fallacy, belum lagi pendapat pendapat mereka yang AMBYAR antara pendapat ulama nya dengan duat nya(tak perlu saya lampirkan contoh nya, terlalu banyak berserakan baik di kitab nya, karya tulis nya maupun dimedsos). 

Jika kita perhatikan sumber kedua sekte sesat diatas, maka akan kita dapati bahwa semua kesesatan mereka bersumber dari ketidak proporsionalan dalam menempatkan akal. Berlebihan dalam menempatkan akal sampai membuang wahyu, dapat menyesatkan manusia, namun potensi tersesat lebih besar bagi mereka yang membuang akal.

Ahlus sunnah wal jama'ah asy'ari dan maturidi lah yang sukses dalam memadukan kedua dalil diatas tanpa harus membenturkan nya. Kesuksesan tsb bisa kita lihat dari lahirnya satu "timbangan" atau "standardisasi" untuk menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah, melalui nalar manusia dengan mengkategorikan "Mustahil" bagi akal sebagai rumus untuk menerima dan menolak, juga menentukan mana yang benar dan yang bathil. 

Karena menurut keyakinan ulama aswaja, "akal yg sehat" salah satu diantara "fakultas" yang dapat mengantarkan seorang manusia kepada kebenaran. Dan semua ulama aswaja maupun manusia yang berakal juga sepakat bahwa out put dari objek aqliyah, berkonsekuensi kepada sesuatu yg "Qath'i", dan final, tidak bisa diganggu gugat, bagi yang mempermasalahkan nya, patut dipertanyakan akal sehat nya dan ini konsekuensi paling rendah bagi mereka yang mengingkari kebenaran yang disimpulkan oleh akal, sebagaimana kesalahan yang bersumber dari akal tidak bisa tolerir. 

Kemudian menjadi pertanyaan, akal manusia dalam timbangan aswaja seperti apa, apakah akal punya batasan tertentu? Dalam artian, adakah konten yang tidak bisa dijangkau atau dipahami oleh akal kita? 

Menurut pendapat yang kuat dan masyhur dalam internal aswaja, ada konten yang tidak bisa dijangkau atau tidak bisa dipahami oleh akal, yaitu konten yang berkaitan dengan hal-hal yang mustahil bagi akal, seperti; terkumpul nya dua hal yg berlawanan "dhidhain" 

ضدَّان هما اللذان لا يجتمعان ويمكن ارتفعهما كالسواد   والبياض 

(Dhidhain itu adalah dua hal yang tidak bisa bersatu pada waktu yang bersamaan, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, misalnya tidak bisa bersatu antara hitam dan putih, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus dengan cara diganti dengan warna yang lain, merah, kuning atau coklat) 

Bagi aswaja inilah pendapat yang kuat tentang masalah batasan akal. Maka bisa dipahami bahwa ada konten yang masih masuk akal, masih bisa dijangkau dan dipahami oleh akal, sebagaimana ada beberapa konten yang memang tidak bisa dijangkau atau dipahami oleh akal dan nalar kita seperti konten yang berkaitan dengan "Perbuatan Allah" (أفعال الله) misalnya: 

1. Allah memberikan ganjaran berupa pahala bagi pemaksiat. 

2. Mengadzab yang taat 

3. Etika dan estetika atau التحسين والتقبيح, penilaian baik dan buruk, dosa dan berpahala terhadap sesuatu. 
Bagi akal, konten diatas tidak bisa dijangkau atau dipahami, karena dzahir nya berlawanan, sehingga konten diatas hanya bisa dipahami oleh bahasa iman atau dengan ayat-ayat Tuhan. 

Sebagaimana keadaan surga neraka secara rinci, pahala, dosa, ini semua hanya bisa diyakini dengan ayat-ayat Tuhan (السمع) karena kesemua konten yg disebutkan diatas, ghaib atau belum hadir saat ini, sehingga akal hanya bisa menyerah dan tunduk pada ayat-ayat Tuhan. 

Sebaliknya, akal bisa memahami dan menjangkau "حقائق الأشياء" misalnya "satu itu setengah dari dua", atau "eksistensi" ALLAH, sifat Hidup Allah, sifat kalam Allah, sifat Alim (mengetahui) sifat mampu, sifat berkehendak, termasuk ketetapan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Semua konten diatas itu bisa dipahami dan dijangkau oleh akal manusia. 

Inilah yang membuat akidah aswaja menjadi tahan banting, dan teruji secara ilmiah, karena mereka mampu merasionalkan apa yang menjadi keyakinan nya tanpa harus membenturkan nya dengan ayat-ayat Tuhan.

Berbeda dengan sekte sesat lagi menyesatkan mujassimah dan musyabbihah yang dimana banyak pendapat mereka yang tidak masuk akal dan juga selalu inkonsisten antara ayat-ayat Tuhan dengan akal manusia, itu terbukti dari beberapa keyakinan mereka misalnya mereka MEYAKINI bahwa;

-"Dzat Allah lebih besar dari pada alam semesta (dalam artian memiliki size/ukuran)"

Pada diwaktu yang bersamaan mereka juga meyakini bahwa;

-Allah turun kelangit dunia dengan "dzat Nya yang super duper besar itu" masuk ke tempat yang paling kecil sebagaimana perumpaan yang disebutkan oleh Rasulullah bahwa alam semesta ini kecil nya seperti ukuran cincin/koin yang dilemparkan ke tengah hamparan padang pasir jika dibandingkan dengan "kebesaran" Allah. Bagi mujassimah kebesaran Allah diatas dipahami dengan "bentuk, size/ukuran, dan volume" sedangkan bagi aswaja kebesaran diatas dipahami sebagai sifat. 

Ini mustahil bagi akal, tak ada seorang manusia yang berakal sehat, sempurna fikiran nya, yang menerima, saking mustahil nya bagi akal manusia, karena "ukuran besar dan kecil" merupakan dua hal yg bertentangan (النقيضان) tidak bisa bersatu pada waktu dan tempat secara bersamaan. Saking mustahil nya, bersatu antara "besar dan kecil" pada waktu yang bersamaan, Allah memperumpamakan nya didalam alquran, ketika mengkabarkan kondisi orang kafir yaitu mereka yang mengingkari Allah, mustahil bagi mereka untuk masuk syurga dengan menyebut dua hal yg bertentangan secara akal sehat النقيضان ;

(إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰ⁠بُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰ⁠لِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat kami dan berlaku sombong terhadap nya, maka tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk syurga sebelum unta masuk kedalam lubang jarum. Demikianlah kami membalas perbuatan orang-orang yang berbuat jahat"

[Surat Al-A'raf 40]

Dan masih banyak lagi contoh keyakinan mereka yg mustahil secara akal alias tidak masuk akal dan nalar manusia, juga bertentangan dengan ayat-ayat Tuhan.

Apa gerangan penyebab keyakinan mereka bisa inkonsisten antara ayat-ayat Tuhan dengan nalar manusia? Karena mereka tidak memperhatikan satu kategori penting dalam kajian akal yang dijadikan penentu untuk menyeleksi antara haq dan bathil yaitu sesuatu yang "Mustahil", inilah penyebab utama kesesatan akidah mereka karena "mengubur hidup-hidup peran akal, bagi mereka tidak ada yang namanya mustahil" sehingga menyebabkan banyak hal dalam keyakinan mereka yang bertentangan dengan akal sehat dan nalar manusia. 

Diantara pembagian ma'lumat yang dibagi oleh ulama aswaja yang masih ada kaitannya dengan "Akal" setidaknya ada 4 kategori;

1."Naqidhaani" (kontradiksi) yaitu dua hal yang tidak bisa terkumpul pada satu waktu dan tempat yg sama secara bersamaan, dan tidak pula bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, harus ada salah satu diantara keduanya yang dipilih, contoh seperti: ada dan tidak ada, gerak dan diam, naik dan turun, besar dan kecil, kesemua ini termasuk kategori "naqidhaani". Sehingga siapa saja yang sengaja mengumpulkan "naqidhaani" pada waktu dan tempat bersamaan, maka ada yang salah dengan akal sehat nya. 

2. "Dhidhaani" (bertolak belakang) yaitu dua hal yang tidak bisa terkumpul pada satu waktu dan tempat yg sama secara bersamaan, namun bisa dihilangkan kedua-duanya sekaligus, misalnya hitam dan putih, keduanya bertolak belakang, namun keduanya bisa diganti atau dihilangkan dengan warna yang lain misalnya dengan warna hijau, kuning atau merah.

3."Alkhilaafaani" (berbeda) yaitu dua hal yang bisa menyatu pada waktu dan tempat secara bersamaan, juga bisa dihilangkan kedua-duanya atau salah satu diantara keduanya. Misalnya gerak dan warna putih, ini dua hal yang berbeda, bisa berkumpul dalam waktu dan tempat secara bersamaan, bisa juga dihilangkan salah satunya. Dan hilang nya salah satu diantara keduanya tidak mempengaruhi eksistensi yang lainnya. Contoh lebih sederhana lagi, ada (eksistensi) dan tempat, ini dua hal yang berbeda, jika dihilangkan salah satunya, tidak akan memengaruhi eksistensi yg lain. Keberadaan Allah, tidak akan hilang walau tanpa tempat, sesuatu yang bersifat wajib ada, tidak akan menjadi tiada walau tanpa tempat, karena tempat dan "ada" bukan dua hal yg kontradiksi, bukan juga dua hal yang saling bertentangan, bisa dikumpulkan keduanya, sebagaimana bisa diangkat/dihilangkan salah satunya tanpa harus memengaruhi eksistensi nya.

Sekian, semoga bermanfaat.