Jumat, 24 November 2017

Logika Iblis

Pasca diusir nya iblis (la’natullah ‘alaihi) dari syurga, dan ditetapkan bahwa ia akan kekal di dalam neraka. Iblis telah berjanji kepada Allah SWT akan menyesatkan seluruh anak cucu adam, agar bisa menemani di neraka dan menjadi pengikut setia nya. Banyak sekali ayat-ayat dalam al quran, yang di mana Allah mengabadikan janji iblis tersebut. Di antaranya Allah SWT berfirman:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Artinya:
“Iblis berkata: Demi kemuliaan Mu (Allah) aku akan menyesatkan semua anak cucu adam”[Q.S Shaad-88]

Janji Iblis bukan sekedar janji palsu, setelah ia meminta penangguhan kepada Allah SWT sampai hari kiamat, maka pada saat itu pula ia mulai bekerja. Dan manusia yang pertama kali di gelincirkan oleh iblis adalah Bapak kita Adam ‘alaihi as salaam.

Logika Iblis

Mulai saat itu iblis merekrut para kader dan pengikut setia demi menyukseskan misi nya untuk menyesatkan manusia agar ia tidak kesepian di neraka. Kader iblis, mulai dari kalangan keluarga dan sebangsa nya yaitu dari golongan syeitan dan jin, juga dari golongan manusia.
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
. وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ
غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). [Q.S Al an’am 112]

Sebagaimana iblis memiliki pengikut setia, begitu juga dengan para Nabi dan Rasul. Mereka ‘alaihim assalaam pun memiliki kader pengikut setia, yang kelak senantiasa konsisten, berdiri tegak melawan kemungkaran dan tipu daya iblis yaitu para da’i yang mengajak ke jalan Allah.

Logika Iblis

Diantara penyebab di keluarkan nya iblis dari syurga secara tidak terhormat, selain karena kembongan nya, juga karena logika nya, yang intinya menolak perintah dari Allah SWT.
Iblis dengan logika nya yang terlihat seperti rasional dan ilmiah namun sangat dankal, tidak sesuai dengan fakta dan realita, mengatakan bahwa api lebih baik dari tanah.
قالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Artinya:
“Berkata Allah SWT kepada iblis; apa yang menghalangimu untuk sujud ketika Aku (yaitu Allah) memerintahkan kepadamu untuk sujud? Iblis berkata; aku lebih baik dari nya (yaitu adam), Engkau menciptakan ku dari api sedangkan dia, engkau ciptakan dari tanah”.[Q.S Al a’raf-12]

Inilah logika iblis, dengan mengatakan bahwa api itu lebih baik dari tanah, maka ia merasa lebih tinggi derajatnya di banding manusia(Adam) yang tercipta dari tanah. Padahal sifat dan dzat tanah jauh lebih baik dari api. Tanah bersifat membangun, tempat kehidupan dan kuat, adapun api, sifat nya membakar, menghanguskan, dan lemah.

Di antara logika iblis yang tersebar di tengah masyarakat kita dan di gandrungi oleh masyarakat modern saat ini adalah logika dualisme (baca_mendingan). Karena di antara metode iblis dalam menyesatkan manusia itu ada dua, entah dengan syahwat atau syubhat(pemikiran dan pendangkalan aqidah).

Dualisme

Dua hari yang lalu kita dihebohkan oleh berita yang menjadi viral dimedia, tentang penggusuran warung makan seorang ibu-ibu oleh satpol PP, karena berjualan disiang hari dibulan ramadhan. Sebenarnya peristiwa yang demikian sudah menjadi hal yang lumrah ditanah air, namun kehadiran para pahlawan bertopeng, yang membela mati-matian si ibu atas nama HAM dan mencela habis-habisan syariat ibadah puasa dan orang yang sedang berpuasa. Mereka mengatakan bahwasanya percuma berpuasa kalau masih bersikap intoleran terhadap yang tidak berpuasa dan lain sebagai nya. Padahal kalau mereka betul-betul membela atas nama HAM dan bukan atas dasar penolakan dan kebencian terhadap syariat ibadah puasa, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama, membela masyarakat pasar ikan, luar batang ketika terjadi penggusuran, atas nama HAM juga. Tapi mereka semua diam dan bungkam, karena pada dasarnya yang mereka inginkan adalah penolakan terhadap syariat islam atas nama HAM.

Kembali ke dualisme, inti dari pemikiran dualisme ini membuat orang tidak punya pilihan, kecuali memilih yang baik. Membandingkan antara dua komponen yang pada hakikatnya tidak bisa disatukan bagaikan air dan api, siang dan malam baik dan buruk.

Sebenarnya didalam alquran Allah telah memberikan isyarat tentang dualisme ini yang memang tidak bisa di satukan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:
“Katakanlah wahai muhammad, tidak sama antara yang buruk dengan yang baik, meskipun banyak nya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan”[Q.S Al maidah-100]
Berkata At thabari dalam tafsirnya “jaami’ul bayan” :

قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم، قل يا محمد: لا يعتدل الرديء والجيد، والصالح والطالح، والمطيع والعاصي ولو أعجبك كثرة الخبيث”، يقول: لا يعتدل العاصي والمطيع لله عند الله، ولو كثر أهل المعاصى فعجبت من كثرتهم، لأن أهل طاعة الله هم المفلحون الفائزون بثواب الله يوم القيامة وإن قلُّوا، دون أهل معصيته= وإن أهل معاصيه هم الأخسرون الخائبون وإن كثروا.

“Berkata abu ja’far: Allah SWT menerangkan ayat ini kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, katakanlah wahai Muhammad: tidak akan pernah sama antara yang rusak dengan yang bagus, antara yang baik dan yang buruk, antara yang ta’at dan yang bermaksiat walau yang buruk sering kali membuat mu takjub…”1

Jilbab Hati

Ketika para pahlawan bertopeng menyuarakan dengan vokal, mendingan tidak berjilbab yang penting hati nya yang berjibab, dan berakhlak baik dari pada berjilbab tapi berakhlak buruk. Ini penilaian yang tidak objektif, karena diluar sana juga banyak para wanita yang tidak berjilbab dan juga berakhlak buruk.

Dengan logika sederhana pun kita katakan, seandainya ketika kita dihadapkan pada jalan yang terdapat paku, duri dan benda tajam lain nya, dan tidak ada jalan lain yang harus kita tempuh kecuali melewati jalan tersebut. Langkah apakah yang harus kita lakukan? tentunya melewati jalan tersebut dengan memakai alas kaki atau sepatu bot yang dapat menghalangi kaki kita dari paku, duri dan benda tajam tersebut dan inilah langkah yang bijak. Bukan dengan mengatakan, kita tidak butuh alas kaki atau sepatu bot, yang penting hati kita sudah di pakai kan alas dan sepatu bot.

Peperangan antara haq dan yang bathil, sudah menjadi sunnatullah, dan akan terus terjadi hingga hari kiamat. Seiring berjalan nya waktu, kita akan tahu, siapa yang akan menjadi pengikut setianya para Nabi dan Rasul, yaitu pembela yang haq dan siapa yang akan menjadi pengikut setianya iblis. Pertanyaan nya dimanakah posisi kita saat ini. Jawaban nya ada pada diri kita masing-masing.

Mudah-mudahan sedikit ini bisa memberikan manfaat kepada kita semua khususnya penulis.

—————————————————————————
1) Kitab tafsir At tahabari surat al maidah ayat 100

Tidak ada komentar:

Posting Komentar