Senin, 29 Juni 2020

"Klaim Dusta Wahabi"

"Klaim Dusta Wahabi"

Oleh; Zulfikar Harun Lc 
(Lulusan Madinah Al munawwarah) 

Seolah sudah menjadi tabiat "sebagian" wahabi adalah berbohong atas nama ulama-ulama aswaja, untuk melegalkan akidah yg mereka anut. Ditambah lagi dengan keanehan sebagian mereka yg menambah deretan kebiasaan buruk tsb adalah "selalu" merasa paling tahu segalanya. "Anti madzhab" akan tetapi selalu merasa paling memahami mekanisme dalam madzhab, anti dengan ahlus sunnah wal jama'ah, akan tetapi selalu merasa paling mengetahui apa yg diyakini oleh ulama-ulama aswaja dan apa saja jenjangan kurikulum kitab aswaja, lucu bukan! 

Diantara klaim dusta tsb adalah mengklaim bahwa Imam abul hasan al Asy'ari, meyakini Allah BERTEMPAT diatas langit dengan mengutip perkataan beliau di beberapa tempat misalnya dari kitab Al ibanah hal 405 (cetakan Darul Fadhilah) beliau berkata:

فإن قال قائل: ما تقولون في الاستواء؟ قيل له: نقول إن الله عز و جل مستو على عرشه...

Artinya:
"Jika seorang berkata, apa pendapat mu terkait istiwa? Kami jawab: Sesungguhnya Allah SWT beristiwa diatas Arsy" 
(Perlu diketahui kitab al ibanah ini selalu menjadi salah satu kitab pegangan wahabi makanya diawal saya belajar dimadinah pun buku yg awal-awal saya beli adalah Al ibanah ini, tujuannya apa? Untuk mencari pembenaran) 

Ibaroh di atas yaitu pernyataan imam abul hasan al Asy'ari, memang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia agak sedikit musykil (karena yg sedang beliau jelaskan diatas lebih kepada metode tafwidh yg di akui oleh aswaja sbg salah satu metode dalam memahami Ayat-ayat sifat, sehingga tidak nyambung bila diterjemahkan) seolah terkesan menunjukan bahwa Imam abul hasan al Asy'ari meyakini bahwa ALLAH BERTEMPAT. Akan tetapi alhamdulillah puji syukur kepada Allah yg telah menjadikan beliau benar-benar sebagai pembela akidah yg haq, sehingga apa yg beliau yakini dengan yg beliau tuliskan, selalu selaras dan tidak kontradiksi. 

Masih dalam kitab yg sama yaitu Kitab Al ibanah cetakan yg sama, hal 161 beliau sebutkan:

فليست له صورة تقال ولا حد...

"Dan Allah tidak berbentuk (shurah) sehingga bisa di visual kan juga Allah tidak berhadd (terbatas pada arah tertentu)" 

Pernyataan beliau diatas, cukup menjadi bukti yg sharih (jelas sekali, sejelas matahari di siang bolong) bahwa ALLAH TIDAK BERTEMPAT, karena jika Allah bertempat maka Allah akan terbatas pada salah satu diantara enam arah/berhadd. Sehingga pernyataan beliau diatas dengan mengatakan"ولا حد" "tidak terbatas", menegaskan "ALLAH ADA TAK BERTEMPAT" sekaligus menepis klaim dusta sebagian wahabi bahwa Imam Abul hasan al Asy'ari meyakini Allah bertempat. 

Ini juga bisa diperkuat dengan pernyataan beliau pada kitab yg lain yaitu "Maqalatul islamiyin" jilid I hal 281:

هذا شرح اختلاف الناس في التجسيم 
قد أخبرنا عن المنكرين للتجسيم أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

"Penjelasan ragam pandangan tentang tajsim (mengvisual Allah dalam bentuk dan rupa):
Telah kami sampaikan sebelumnya tentang  pendapat (ahlus sunnah dan ahli hadist) penolakan terhadap kaum tajsim, mereka berkata (ahlus sunnah dan ahli hadist);
Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (terbatas pada arah), tidak berjarak (sehingga punya batas akhir tujuan)" 

Setalah menyebutkan ragam pendapat mujassimah diatas, beliau melanjutkan, dengan menjelaskan sikap dan penolakan beliau yg mengatakan Allah BERTEMPAT, BERGERAK (termasuk naik turun), masih di kitab yg sama "Maqalatul islamiyin" jilid I hal 282 beliau berkata:

وقد ذكر عن بعض المجسمة أنه كان يثبت البارىء ملونا... وزعم أنه كان في مكان دون مكان، متحرك من وقت خلق الخلق.

Dan telah disebutkan pendapat dari sebagian Mujassimah, bahwa diantara mereka ada yg menetapkan bagi Allah warna (kulit) dan mereka meyakini bahwa ALLAH BERTEMPAT di suatu tempat tertentu yg tidak seperti dengan tempat(yg makruf), dan meyakini bahwa ALLAH BERGERAK sejak waktu penciptaan makhluk.

Apa yg beliau yakini diatas, sama persis dengan para ulama yg sezaman dengan beliau walau mungkin tidak pernah bertemu satu sama lainnya. Sebut saja Imam At thahawi, didalam kitab beliau yaitu "Akidah At thahawiyah" beliau sebutkan:

تعالى عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ولا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Fokus pada kalimat "تعالى عن الحدود"
Pada kalimat ini sangat jelas sekali bahwa apa yg diyakini oleh imam Abul hasan al Asy'ari, sama seperti yg diyakini oleh Imam At thahawi yaitu: "ALLAH TIDAK BERTEMPAT" karena lawaazim dari tempat adalah "hadd atau terbatas" dan hadd ciri dari makhluk, dan Allah tersucikan dari hal-hal tsb.

Begitu pun dengan apa yg diyakini oleh Imam Ahmad, bahwa ALLAH Maha tinggi (mulia) yg tidak BERTEMPAT apalagi terbatas pada arah tertentu, itu bisa di lihat dari penjelasan Imam Abul Wahid At tamimi (yg paling dekat zaman nya dengan Imam Ahmad, wafat pada tahun 410 H) beliau membawakan riwayat Imam Ahmad didalam kitab beliau "I'tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38;

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

" Dan Allah SWT tidak mengalami perubahan dan tidak terbatas oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy"

Dan ini cukup menjadi bukti bahwa Imam Abul hasan Al Asy'ari tidak pernah meyakini ALLAH BERTEMPAT sebagaimana klaim wahabi atas beliau, walau kitab Al ibanah ini sebagaimana kesaksian para ulama-ulama kita ada beberapa riwayat dan kalimat yg sama sekali bukan berasal dari pendapat Imam Abul hasan al Asy'ari namun sehabat apapun mereka yg "mentahrif" memalsukan beberapa riwayat tsb, mereka tak mampu untuk merubah keyakinan sang Imam.

Kesimpulan nya, bahwa keyakinan Imam Abul hasan al Asy'ari tidak pernah berubah sampai beliau wafat yaitu ALLAH ADA TANPA TEMPAT. Begitu juga apa yg diyakini oleh Ulama-ulama kita lainnya. Jadi keyakinan Aswaja adalah ALLAH ADA TAK BERTEMPAT, Allah sangat dekat dengan Hamba Nya, mengetahui setiap gerak gerik hamba bahkan mengetahui hal yg paling detail dan tersembunyi didalam hati, Allah selalu mengawasi para hamba Nya. Setidaknya kedekatan ALLAH dengan Hamba, membuat kita sbg hamba malu untuk melakukan maksiat, selihai apapun usaha kita untuk menyembunyikan dari pandangan manusia, tapi kita tak bisa menyembunyikan perbuatan kita dari pandangan dan pengawasan ALLAH, karena Allah sangat dekat dengan kita.

Sabtu, 13 Juni 2020

"Apakah mensucikan Allah membutuhkan dalil eksplisit"

"Apakah mensucikan Allah membutuhkan dalil eksplisit"?!

Oleh: Zulfikar Harun Lc 

Didalam alquran, Allah menyebutkan ayat yg berisi perintah untuk senantiasa "mensucikan" Nya, diantara perintah tsb adalah firman Allah SWT;
(سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى)

[Surat Al-A'la 1]

Artinya;

"Bertasbih lah (sucikan lah) nama Tuhan Mu (yaitu Allah) yg maha Tinggi (mulia)" 
Ayat diatas, menjadi semacam "rambu" bagi ulama ahlus sunnah wal jama'ah dalam membangun pemahaman "ber Akidah" bahwa mensucikan Allah itu harga mati, mutlak tak boleh di tawar. 

Maka adalah bagian dari mensucikan Allah sebagaimana kaidah ulama kita;
"Menetapkan apa-apa yg Allah tetap kan bagi Nya atau yg ditetapkan oleh Rasul Nya" 

karena semua yg ditetapkan Allah dan Rasul Nya itulah kesempurnaan yg mutlak, logika nya tentu Allah lah yg paling tahu yg pantas bagi Dzat Nya, pun sebaliknya, menafyikan atau meniadakan bagi Allah, sesuatu yg Allah tiadakan (nafyikan) bagi Nya atau yg di tiadakan (nafyikan) oleh Rasul Nya, atau sesuatu yg punya celah yg dapat mengurangi kesucian Allah, maka wajib tidak boleh di sematkan kepada Allah (nafyu). 

sehingga apa pun yg dapat mengurangi kesucian Allah walau itu "sempurna" jika di nisbat kan kepada manusia, maka harus di nafyikan, tidak boleh di tetapkan kepada Allah, meski tidak disebutkan didalam alquran maupun hadits Nabi, contohnya "bertempat" bagi Allah, dimana konsekuensi nya akan menghilangkan kesempurnaan Allah yg Maha Ghani (Maha Kaya, tidak membutuhkan apapun dan siapapun) juga seperti "mentepakan" anggota tubuh bagi Allah, tangan, kaki, wajah, mata, telinga dan sebagainya, dimana kesemuanya itu dapat menghilangkan kesempurnaan Allah yaitu Allah Maha Esa, Maha tunggal, karena jika Allah tersusun oleh anggota tubuh, maka dimana letak kesempurnaan Allah;

(لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)

[Surat Asy-Syura 11]

Allah tidak sama dengan makhluk. 
Dan jika Allah tersusun konsekuensi logis nya adalah membutuhkan yg menyusun Nya, ibarat seperti sebuah Lego yg tersusun menjadi sebuah rumah, pasti tersusun nya Lego tsb menjadi sebuah rumah tentu membutuhkan "yg menyusun nya" mustahil tiba-tiba tersusun dengan sendiri nya, begitu pun konsekuensi logis nya ketika "menetapkan" anggota tubuh bagi Allah. 

Maka bagi ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, ayat perintah mensucikan Allah diatas, menjadi rambu dalam menetapkan maupun menafyikan. Walau tidak disebutkan didalam alquran secara eksplisit (dalil rinci). 

Karena bagi Aswaja, ayat yg disebutkan didalam alquran terkait menafyikan atas Allah, bukan sebagai "pembatasan" akan tetapi itu sebagai "petunjuk/rambu" agar di jadikan sebagai petunjuk untuk memahami mana yg layak dan mana yg tidak layak bagi Allah dengan menggunakan "Akal sehat". 

Apakah bisa akal menuntun kita untuk mengetahui mana yg layak dan tidak layak bagi Allah? 

Sangat bisa! 

Begini, didalam akal setiap manusia, Allah lengkapi dengan kemampuan membedakan mana yg baik dan mana yg buruk, sehingga manusia tahu dan akan merasa bersalah jika dia melakukan sesuatu yg tidak baik, seperti mencuri, membunuh, dan berzina, maka untuk mengetahui ini buruk, manusia mampu mengetahui nya dengan akal sehat yg masih diatas fitrah. Dalam fiqh ini disebut sebagai "Akal taklifi" kemampuan untuk memahami sesuatu, yg dimana kemampuan ini Allah berikan sama rata bagi manusia, tidak ada yg dilebih kan mau dia berprofesi sebagai dosen atau petani semua sama, sama-sama memiliki kemapuan diatas. 

Demikian juga dalam kajian Tauhid, ada hukum akal yg sudah menjadi "kesepakatan semua orang yg berakal", bahwa hukum aqli itu terbagi menjadi tiga:

1. Wajib (sesuatu yg mustahil tidak dimiliki/sesuatu yg wajib di miliki, contoh sifat "Ada" bagi Allah, sifat ini wajib harus ada bagi Allah, karena kalau tidak maka alam semesta ini juga seharusnya tidak ada, namun karena realita nya alam semesta ini ada maka bagi Allah Sang Pencipta, wajib memiliki sifat "Ada") 

2. Mungkin/jaiz (boleh) (maksudnya bagi Allah boleh saja Allah melakukan sesuatu sebagaimana boleh bagi Allah tidak melakukan Nya (af'al) karena tak ada satu pun yg bisa memaksa Allah apalagi mewajibkan. Bagi Allah berbuat sekehendak Nya sebagaimana Allah berbuat semau Nya) 

3. Mustahil (sesuatu yg mustahil ada pada Allah, misalnya bertubuh/jism tersusun dan semisal nya, kenapa menjadi mustahil bagi Allah, karena sifat Wajib bagi Allah yaitu Allah maha Qadim, maka menetapkan bahwa Allah bertubuh, bertangan berkaki, berarti sama dengan menetapkan sesuatu yg haadist/baru bagi Allah, dan ini tentu bertentangan dengan sifat Qadim Allah) 

Dengan menggunakan kaidah dasar berlogika diatas, maka diterapkan oleh ulama-ulama kita, ketika mereka  menafyikan sesuatu bagi Allah yg tak pantas. Sehingga sesuatu yg berindikasi "ketidak layakan" bagi Allah menurut timbangan hukum berlogika diatas, harus di nafyikan, dibuang jauh-jauh dan tak boleh di tetapkan bagi Allah, walau tidak disebutkan didalam Alquran.

Dan ini selaras dengan apa yg di praktekan oleh para Nabi dan Rasul ketika berdakwah kepada kaum nya yg tidak beriman kepada Allah, contoh ril nya sebagaimana yg disebutkan Allah didalam alquran kisah Nabi Ibrahim ketika mendakwahi kaum "paganisme" (penyembah bintang bulan dan matahari) Allah berfirman;

(فَلَمَّا جَنَّ عَلَیۡهِ ٱلَّیۡلُ رَءَا كَوۡكَبࣰاۖ قَالَ هَـٰذَا رَبِّیۖ فَلَمَّاۤ أَفَلَ قَالَ لَاۤ أُحِبُّ ٱلۡـَٔافِلِینَ)

[Surat Al-An'am 76]

Artinya;
"Ketika datang malam, Nabi Ibrahim melihat bintang, Nabi Ibrahim berkata; ini Tuhan ku, namun ketika hilang bintang-bintang tsb, Nabi Ibrahim berkata: saya tidak menyukai sesuatu yg hilang"

Ayat diatas menarik karena berisi dialog Nabi Ibrahim dengan kaum paganisme, metode Nabi Ibrahim mendakwahkan Tauhid kepada mereka adalah menggunakan pendekatan akal sehat. 

Dimana menurut Nabi Ibrahim, bahwa jika benar bintang-bintang itu adalah Tuhan, maka seharusnya Tuhan itu tidak mengalami "perubahan" yaitu bermakna hilang atau terbenam ketika fajar datang.

Maka Bagi yg berakal sehat tentu akan menerima kenyataan demikian bahwa Tuhan itu tidak boleh mengalami perubahan, karena kalau Tuhan mengalami perubahan, maka dia akan berubah seiring waktu berjalan, akan menua, maka sifat "taghayyur" mengalami perubahan tak layak bagi Tuhan.

Dan inilah yg di ikuti oleh ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, dalam hal menafyikan "perubahan" bagi Allah dengan menetapkan sifat "Baqaa".

Namun berbeda dengan kelompok sempalan Wahabi mujassimah/musyabbihah. Untuk melegalkan paham Tajsim mereka, mereka akan mengelak dengan berdalih; di dalam alquran maupun hadits kan tidak di tiadakan (nafyi) kata-kata jism!, ketika kita sebagai Aswaja mengatakan kepada mereka tidak boleh menetapkan bahwa ALLAH bertubuh.

Namun sayangnya, mereka tidak konsisten dengan "metode" mereka sendiri yaitu membatasi apa yg di tiadakan didalam alquran. 

Contoh nya ketika mereka "menafyikan bagi Allah, rasa lapar, haus, sakit" padahal Allah tidak menafyikan yg demikian secara rinci (eksplisit) baik di dalam alquran maupun hadits Nabi, walau ini sebenarnya selaras dengan keyakinan Ahlus sunnah wal jama'ah, hanya saja mereka tidak konsisten. Ini menunjukkan bahwa wahabi mujassimah dan musyabbihah adalah "pengikut hawa nafsu" memilih yg sesuai dengan selera nya dan membuang yg tidak sesuai dengan selera.

Mari kita simak perkataan salah seorang syeikh rujukan wahabi yaitu Syeikh Bin Baaz, ketika menjelaskan hadits qudsi yg diriwayatkan oleh Imam Muslim;

قال: قال رسول الله ﷺ: إن الله يقول يوم القيامة: يا ابن آدم، مرضت فلم تعدني، قال: يا رب، كيف أعودك وأنت رب العالمين؟ قال: أما علمت أن عبدي فلانًا مرض فلم تعده؟ أما عtعن أبي هريرة لمت أنك لو عدته لوجدتني عنده، يا ابن آدم استطعمتك فلم تطعمني، قال: يا رب، كيف أطعمك وأنت رب العالمين؟ قال: أما علمت أنه استطعمك عبدي فلان فلم تطعمه، أما علمت أنك لو أطعمته لوجدت ذلك عندي، يا ابن آدم استسقيتك فلم تسقني، قال: يا رب، كيف أسقيك، وأنت رب العالمين؟ قال: استسقاك عبدي فلان فلم تسقه، أما علمت أنك لو سقيته لوجدت ذلك عندي، رواه مسلم. 

Artinya;
Ketika kiamat nanti Allah berfirman kepada Hamba Nya;
"Hai anak Adam, Aku sakit, kau tidak menjenguk-Ku. Orang itu berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan alam semesta? Allah menjawab: Apakah kau tidak tahu hamba-Ku si Fulan sedang sakit tapi kau tidak mau menjenguknya. Andai saja kau menjenguknya, kau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan, tetapi kau tidak mau memberi-Ku makan. Dia berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang Engkau Tuhan alam semesta? Allah berfirman: apakah kau tidak tahu hamba-Ku, si Fulan, meminta makan kepadamu, tetapi kau tidak memberinya makan. Ingatlah, sekiranya kau memberinya makan, kau akan menemukan Aku di sana. Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi kau tak memberi-Ku minum. Dia berkata: Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan Pemilik alam semesta? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi kau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya kau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. (H. R. Muslim )

Hadits diatas, tidak ada masalah bagi ulama Ahlus sunnah wal jama'ah, karena lapar, haus, sakit, memang secara logika akal sehat manusia, tidak boleh di sematkan kepada Allah karena selain tak pantas bagi Allah, juga mustahil bagi akal seorang manusia, Tuhan kemudian lapar haus apalagi sakit, namun bagi wahabi, ketika terdesak, maka mereka tidak sungkan dan tak tahu "malu" untuk menyelisihi kaidah yg mereka "buat", berkata Syeikh rujukan Wahabi, syeikh Bin Baz dalam kitab "Tanbihaat fi raddi 'ala man ta awwala ash shifaat hal 27-29";

فاعلم بذالك أن الله تعالى لم يمرض ولم يجع وإنما أراد سبحانه وتعالى من ذالك حث العباد على عيادة المريض وإطعام الجائع

Artinya:
"Ketahuilah, bahwa ALLAH itu tidak sakit, tidak lapar, hanya saja yg di inginkan oleh Allah bagi hamba Nya, memotivasi hamba Nya untuk senantiasa menjenguk saudara nya yg sedang sakit dan memberikan makan kepada yg kelaparan..."

Jadi, kita bisa melihat dan menilai siapa yg benar-benar mengikuti petunjuk alquran dan hadits Nabi, dan siapa kelompok sempalan pengekor hawa nafsu.