Benar kah Allah itu "bertubuh".
Diera modern ini, era keterbukaan informasi, banyak sekali manfaat yg kita dapat kan. Namun dibalik manfaat tsb, pun ada kerusakan yg tak kalah besar. Diantara kerusakan tsb, tersebar nya pemikiran yg dapat menyesatkan keyakinan kaum muslimin. Ada yg bersembunyi dibalik kata "kebebasan dalam beragama" pun tak sedikit juga bersembunyi di balik slogan agama seperti alquran, sunnah dan "salaf".
Pemikiran yg sudah usang pun diangkat kembali, dan ini menjadi tantangan kita kedepan, terutama kita sbg orang tua, pemimpin rumah tangga, selain menjaga fisik anak keturunan kita, pun kita dituntut untuk menjaga keyakinan dan isi kepala mereka, agar tidak menyimpang dan tersesat.
Diantara gemelut pemikiran yg dapat merusak akidah kaum muslimin hari ini, adalah liberal dan "neo" mujassimah yg kini banyak tersebar ditengah kaum muslimin, bahkan banyak diantara mereka ada yg bersembunyi dibalik "organisasi islam" terutama yg berafiliasi ke Saudi. Maka sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membentengi keluarga kita agar tidak terjangkit dari dua pemikiran sesat diatas.
Diantara pemikiran yg sengaja disebarkan ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin hari ini, adalah pemikiran bahwa Allah itu "bertubuh". Bahkan tak tanggung-tanggung, untuk terlihat lebih meyakinkan, di kutip pun pendapat tokoh "kontroversi" yaitu Ibnu Taimiyah, untuk melegalkan keyakinan ini agar bisa diterima, dengan sedikit di bumbui dengan "slogan" alquran dan Sunnah, juga melibatkan beberapa nama ulama salaf. Padahal justru ulama-ulama salaf yg bahkan menjadi rujukan mereka pun berlepas diri dari keyakinan "menyimpang" mereka yaitu meyakini Allah bertubuh.
Ibnu Taimiyah sendiri secara tidak langsung mendukung akidah mujassimah/yg mengatakan bahwa Allah bertubuh. Itu bisa kita buktikan sendiri dari literatur nya. Diantaranya kitab "Bayan talbis jahmiyah" yg memuat sikap dukungan nya terhadap akidah sesat menyesatkan ini;
فاسم المشبهة ليس له ذكر بذم في الكتاب والسنة ولا في كلام أحد من الصحابة والتابعين
Artinya:
Sematan "musyabihah" itu tidak tercela baik didalam alquran, maupun sunnah Nabi, dan juga tidak tercela menurut para sahabat dan tabi'in. (Bayan talbis al jahmiyah jilid 1 hal 109)
Bisa kita nilai sendiri, bagimana sikap dan dukungan Ibnu Taimiyah terhadap keyakinan ini walapun kalimat diatas tidak tegas, padahal biasanya Ibnu Taimiyah orang yg paling tegas terhadap sesuatu yg tidak sepaham dengan dia, atau terhadap sesuatu yg "dia anggap" salah, ini membuktikan bahwa Ibnu Taimiyah diatas keyakinan ini.
Ternyata, keyakinan yg mengatakan Allah bertubuh/mujassimah justru telah mendapat kecaman dan pengingkaran keras baik dari kalangan para salaf maupun dari alquran sendiri.
Didalam alquran Allah SWT berfirman dengan tegas;
( لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)
[Surat Asy-Syura 11]
Dia (Allah) tidak serupa dan menyerupai (dengan) sesuatu apa pun.
Dan diayat yg lain Allah tegaskan bahwa Allah tidak bertubuh;
(وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)
[Surat Al-Ikhlas 4]
Terus bagaimana dengan pendapat para imam salaf,?
Salah satu imam salaf yg dijadikan rujukan oleh ahlusunnah wal jamaah adalah imam Ahmad, bahkan beliau sering di klaim oleh mujassimah sbg Imam mereka, padahal Imam Ahmad sendiri berlepas diri dari kesesatan mereka, itu bisa dilihat dari penolakan beliau terhadap pemahaman yg mengatakan bahwa Allah bertubuh. Di nuqil dari Imam Al Baihaqi dalam kitab "Manaqib Imam Ahmad";
"إن الأسماء مأخوذة من الشريعة واللغة، وأهل اللغة وضعوا هذا الاسم على ذي طول وعرض... فلم يجز أن يسمى جسما لخروجه عن معنى الجسمية...
Artinya;
Sesungguhnya nama-nama (yg kita gunakan dalam berinteraksi) diambil dari syariat dan bahasa arab. Dan para pakar bahasa, menggunakan lafadz "jism/tubuh" untuk menjelaskan kepada sosok yg punya volume, masa, dan sifat... Maka tidak boleh mensematkan Allah dengan "jism/tubuh" karena Allah bukan tubuh.
Bukan sekedar pengingkaran, tak tanggung-tanggung para ulama kita, selain menyesatkan paham ini, juga sebagian dari mereka "mengkafirkan" pemahaman diatas, yaitu yg mengatakan Allah berjism/beranggota tubuh, karena telah menyelisihi Alquran dan Sunnah, menyelisihi pemahaman para salaf juga menyelisihi akal sehat.
Mari kita lindungi anak keturunan kita dari 2 paham sesat diatas, paham liberal dan paham mujassimah dengan cara "ajari" mereka akidah ahlusunnah wal jamaah, terutama sifat 20 agar terbentengi dari paham paham sesat yg tak sejalan dengan logika, dan yg menabrak konsensus syariat islam.
_Zulfikar Harun Lc
Diera modern ini, era keterbukaan informasi, banyak sekali manfaat yg kita dapat kan. Namun dibalik manfaat tsb, pun ada kerusakan yg tak kalah besar. Diantara kerusakan tsb, tersebar nya pemikiran yg dapat menyesatkan keyakinan kaum muslimin. Ada yg bersembunyi dibalik kata "kebebasan dalam beragama" pun tak sedikit juga bersembunyi di balik slogan agama seperti alquran, sunnah dan "salaf".
Pemikiran yg sudah usang pun diangkat kembali, dan ini menjadi tantangan kita kedepan, terutama kita sbg orang tua, pemimpin rumah tangga, selain menjaga fisik anak keturunan kita, pun kita dituntut untuk menjaga keyakinan dan isi kepala mereka, agar tidak menyimpang dan tersesat.
Diantara gemelut pemikiran yg dapat merusak akidah kaum muslimin hari ini, adalah liberal dan "neo" mujassimah yg kini banyak tersebar ditengah kaum muslimin, bahkan banyak diantara mereka ada yg bersembunyi dibalik "organisasi islam" terutama yg berafiliasi ke Saudi. Maka sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membentengi keluarga kita agar tidak terjangkit dari dua pemikiran sesat diatas.
Diantara pemikiran yg sengaja disebarkan ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin hari ini, adalah pemikiran bahwa Allah itu "bertubuh". Bahkan tak tanggung-tanggung, untuk terlihat lebih meyakinkan, di kutip pun pendapat tokoh "kontroversi" yaitu Ibnu Taimiyah, untuk melegalkan keyakinan ini agar bisa diterima, dengan sedikit di bumbui dengan "slogan" alquran dan Sunnah, juga melibatkan beberapa nama ulama salaf. Padahal justru ulama-ulama salaf yg bahkan menjadi rujukan mereka pun berlepas diri dari keyakinan "menyimpang" mereka yaitu meyakini Allah bertubuh.
Ibnu Taimiyah sendiri secara tidak langsung mendukung akidah mujassimah/yg mengatakan bahwa Allah bertubuh. Itu bisa kita buktikan sendiri dari literatur nya. Diantaranya kitab "Bayan talbis jahmiyah" yg memuat sikap dukungan nya terhadap akidah sesat menyesatkan ini;
فاسم المشبهة ليس له ذكر بذم في الكتاب والسنة ولا في كلام أحد من الصحابة والتابعين
Artinya:
Sematan "musyabihah" itu tidak tercela baik didalam alquran, maupun sunnah Nabi, dan juga tidak tercela menurut para sahabat dan tabi'in. (Bayan talbis al jahmiyah jilid 1 hal 109)
Bisa kita nilai sendiri, bagimana sikap dan dukungan Ibnu Taimiyah terhadap keyakinan ini walapun kalimat diatas tidak tegas, padahal biasanya Ibnu Taimiyah orang yg paling tegas terhadap sesuatu yg tidak sepaham dengan dia, atau terhadap sesuatu yg "dia anggap" salah, ini membuktikan bahwa Ibnu Taimiyah diatas keyakinan ini.
Ternyata, keyakinan yg mengatakan Allah bertubuh/mujassimah justru telah mendapat kecaman dan pengingkaran keras baik dari kalangan para salaf maupun dari alquran sendiri.
Didalam alquran Allah SWT berfirman dengan tegas;
( لَیۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَیۡءࣱۖ وَهُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ)
[Surat Asy-Syura 11]
Dia (Allah) tidak serupa dan menyerupai (dengan) sesuatu apa pun.
Dan diayat yg lain Allah tegaskan bahwa Allah tidak bertubuh;
(وَلَمۡ یَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ)
[Surat Al-Ikhlas 4]
Terus bagaimana dengan pendapat para imam salaf,?
Salah satu imam salaf yg dijadikan rujukan oleh ahlusunnah wal jamaah adalah imam Ahmad, bahkan beliau sering di klaim oleh mujassimah sbg Imam mereka, padahal Imam Ahmad sendiri berlepas diri dari kesesatan mereka, itu bisa dilihat dari penolakan beliau terhadap pemahaman yg mengatakan bahwa Allah bertubuh. Di nuqil dari Imam Al Baihaqi dalam kitab "Manaqib Imam Ahmad";
"إن الأسماء مأخوذة من الشريعة واللغة، وأهل اللغة وضعوا هذا الاسم على ذي طول وعرض... فلم يجز أن يسمى جسما لخروجه عن معنى الجسمية...
Artinya;
Sesungguhnya nama-nama (yg kita gunakan dalam berinteraksi) diambil dari syariat dan bahasa arab. Dan para pakar bahasa, menggunakan lafadz "jism/tubuh" untuk menjelaskan kepada sosok yg punya volume, masa, dan sifat... Maka tidak boleh mensematkan Allah dengan "jism/tubuh" karena Allah bukan tubuh.
Bukan sekedar pengingkaran, tak tanggung-tanggung para ulama kita, selain menyesatkan paham ini, juga sebagian dari mereka "mengkafirkan" pemahaman diatas, yaitu yg mengatakan Allah berjism/beranggota tubuh, karena telah menyelisihi Alquran dan Sunnah, menyelisihi pemahaman para salaf juga menyelisihi akal sehat.
Mari kita lindungi anak keturunan kita dari 2 paham sesat diatas, paham liberal dan paham mujassimah dengan cara "ajari" mereka akidah ahlusunnah wal jamaah, terutama sifat 20 agar terbentengi dari paham paham sesat yg tak sejalan dengan logika, dan yg menabrak konsensus syariat islam.
_Zulfikar Harun Lc
