“Benarkan
fuqaha (Ahli Fiqh) Tidak Paham Hadist?”
Sebuah stigma
negative yang selalu di lemparkan kepada para fuqaha dengan mengatakan bahwa para
fuqaha adalah orang-orang yang kurang memahami hadist, sehingga (menurut
penuduh) para fuqaha itu kurang selektif dalam memilah milih mana yang shahih
dan mana yang dha’if/lemah.
Sekilas
perkataan tersebut seolah tampak benar padahal hakikat nya “sangat keliru” dan
fitnah belaka, karena ada suatu hadist yang di dha’if kan oleh ahli hadist
namun diamalkan oleh mayoritas fuqaha, pun sebaliknya ada suatu hadist yang
shahih menurut ahli hadist namun justru tidak diamalkan sama sekali oleh
fuqaha/ulama ahli fiqh.
Ada apa
gerangan?
Mereka yang bukan
konsentrasi dalam dunia fiqh, atau pun yang tidak pernah membaca metodologi
para fuqaha melalui buku buku madhkal pengantar madzhab, maka mereka akan mudah
menuduh para fuqaha dengan tuduhan diatas atau bahkan dengan tuduhan-tuduhan negative
yang seolah mengucilkan para fuqaha.
Jika kita
membuka buku-buku seputar metodologi atau pun manhaj para fuqaha, maka akan
kita dapati, siapa pun Imam tersebut, selalu menjadikan dasar pondasi madzhab
fiqh mereka, dengan alquran dan sunnah. Baik Imam Abu Hanifah, Malik, Syaafi’I maupun
Ahmad, semuanya mendasari madzhab mereka dengan alquran dan sunnah, hanya saja
beberapa dalil yang lebih rinci, seperti istihsan, istishab, qaul shahabi,
syariat agama sebelum kita, amalan ahli Madinah, sadd adz-zdaraai, ‘Urf, Adat
istiadat dll, itu sedikit ada perbedaan baik penggunaan nya, taqdim, dan ta’khir
/mana yang di akhirkan, maupun kelayakan nya , ada sedikit ikhtilaf dan
perbedaan diantara mereka.
Namun walau demikian mereka tetap sepakat menjadikan
alquran dan sunnah sebagai dalil utama, dan mengedepankan kedua nya ketimbang
dalil yang rinci tadi.
Bukan hanya
itu, rantai keilmuan para fuqaha pun jelas, terkhusus 4 imam madzhab yang kalau
kita telusuri lebih detail lagi, ternyata rantai keilmuan mereka sampai kepada
para sahabat Nabi.
Imam Abu
hanifah, pendiri madzhab “Ar ra’yu”, yang terkenal dengan kepiawaian beliau dalam
mengotak-atik Qiyas dan istihsan. Rantai keilmuan beliau sampai kepada sahabat
yg mulia Abdullah bin mas’ud. Beliau belajar dari imam Hammad bin Abi Sulaiman,
dan Hammad bin abi sulaiman belajar dari Imam Ibrahim An-Nakha’I, dan Ibrahim
An-Nakha’I belajar dari Imam ‘Alqamah bin Qais dan Alqamah mengambil langsung
ilmunya dari sahabat yang mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu.
Adapun metode
beliau, mari kita saksikan komentar ulama, salah satu nya komentar imam Khathib
Al Baghdadi yg mengomentari imam Abu Hanifah, dalam salah satu kitab beliau
yaitu “Tarikhul baghdaad” jilid ke 15 hal 504 beliau berkata mengutip perkataan
Imam Abu Hanifah;
آخذ
بكتاب الله فما لم أجد فبسنة رسول الله...
Dari perkataan Imam Abu hanifah diatas setidaknya
membantah beberapa tuduhan kepada beliau;
1.
Membantah tuduhan
yang mengatakan bahwa imam Abu Hanifah adalah Imam yang selalu mengedepankan
Qiyas (logika) ketimbang hadist, buktinya dari rekaman perkataan beliau diatas
bahwa beliau selalu mendahulukan dan mengedepankan Al quran dan hadist sebagai
dalil utama dalam menyimpulkan satu hukum tertentu.
2.
Dari perkataan
beliau diatas, terbantah lah tuduhan yg mengatakan bahwa Imam Abu hanifah itu “Tidak
Paham Hadist”. Justru dari perkataan beliau di atas lah menunjukan bahwa beliau
sangat paham betul dengan hadist, buktinya Imam Abu Hanifah itu punya kitab
kumpulan hadist yg beliau riwayatkan dan itu beliau kumpulkan dalam kitab yg
bernama “Jaami’ul Masaanid” yang dikumpulkan oleh dua murid senior beliau yaitu
Abu Yusuf dan As syaibaani, kitab beliau alhamdulillah sampai kepada kita dan
sudah dicetak pun disebar luaskan.
Imam Malik,
seorang Imam yang mampu menggabungkan antara hadist dengan logika, sehingga
ditangan beliau lahirlah dalil produk akal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang tidak dimuat dalam alquran dan sunnah, yaitu “Mashlahat mursalah”. jika
ditelusuri rantai keilmuan beliau maka akan kita dapati silsilah keilmuan
beliau sampai kepada sahabat Nabi yang mulia yaitu Imam Ja’far ash shaadiq Radhiyallahu
‘anhu.
Adapun metode
beliau, sangat jelas sekali, sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Al Qaraafi
Al Maaliki dalam kitab nya “Tanqihul Fushul” hal 423, beliau berkata mengomentari
Imam Malik;
القرآن والسنة
والإجماع والإجاع أهل المدينة والقياس...
Dari kutipan
Imam Qarafi diatas sangat lah jelas bahwa Imam Malik, menjadikan secara runut
dan tertib hadist setelah alquran sebagai dasar pengambilan hukum madzhab nya. Namun
aneh nya Imam Malik, walaupun beliau terkenal dengan seorang ahli hadist, yang
begitu selektif dan ketat dalam hal syarat seorang rawi, beliau justru
menyelisihi mayoritas ahli hadist dalam “pengamalan” hadist munqathi’, mursal
dan hadist Mauquf yang justru tertolak menurut ahli hadist. Bahkan dalam beberapa
kesempatan beliau menolak untuk mengamalkan suatu hadist walaupun shahih dengan
alasan “Tak masuk di akal” dalam artian beliau mengutamakan logika di bandingkan
hadist, contohnya adalah penolakan Imam Malik terhadap hadist “puasa 6 hari
dibulan syawwal”. Mengedepankan perkataan masyarakat/penduduk Madinah (pada
saat itu) ketimbang hadist Ahad walapun derajat nya shahih. Mungkin kalau imam
Malik hidup dizaman skrg, pasti akan dituduh dengan tuduhan macam-macam, dari yang tidak “nyunnah” lah
sampai mungkin dengan gelar buruk seperti “ahlu bid’ah” Lahaulaa walaa quwwataa
illa billah.
Imam Syafi’I,
imam, yang dimana terkenal dengan kemampuan menggabungkan antara atsaar Nabi
dan juga logika sama seperti guru beliau yaitu imam Malik. Juga jika dilihat
dari rantai keilmuan beliau, maka akan kita dapati bahwa rantai keilmuan beliau
sampai kepada sahabat Nabi. Kemampuan beliau dalam menggunakan logika sangat
luar biasa, ditangan beliau lahir lah sebuah maha karya yang beliau tuangkan
dalam kitab yang bernama “Ar risaalah”. Dalam kitab tersebut, beliau menuangkan
dhwabit dan batasan-batasan penggunakan qiyas, bagaimana memahami hadist dengan
benar dan beberapa standarisasi dalam ilmu hadist seperti pengamalan hadist
ahad, kualifikasi raawi yg pantas diambil riwayat hadits nya dll.
Imam syafi’I dari
ucapan beliau lah kemudian banyak disalah pahami oleh sebagian penuntut ilmu
hari ini, bahkan cendrung memahami nya dengan hawa nafsu untuk melegalkan tradisi
“anti madzhab” mereka kepada orang awam, yaitu;
إذا صح الحديث فهو مذهبي
“Jika hadist
tsb shahih, maka itulah madzhabku”
Padahal perkataan
beliau diatas tidak dipahami secara literal, justru sebagian besar sikap beliau
bertentangan dengan perkataan beliau di atas, karena banyak menyelisihi hadist
yang secara kevalidan adalah shahih, namun jutsru beliau tidak mengamalkan
hadist tersebut. Karena mengamalkan hadist menurut beliau tidak sama seperti mengecek
keshahihan hadist. Karena menurut beliau tidak semua hadist shahih pantas untuk
diamalkan, pun demikan pada hadist lemah atau dha’if, tidak semua hadist dha’if
itu tidak bisa diamalkan atau tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Itu bisa dilihat
dari penjelasan salah seorang syeikh melalui tulisan beliau, karya ilmiah
syeikh Dr. Ali Baqaa’I judul bukunya “Izdaa shahhal hadiist fahuwa madzhabi”
hal 118.
Imam Ahmad. Seorang
imam yang terkenal dengan keistiqamahan beliau dalam membela dan berpegang
teguh pada hadist-hadist Nabi. Seorang Imam madzhab yang lebih banyak aktifitas
nya dalam bergelut dengan hadist-hadist Nabi, sehingga dimata sebagian fuqaha
seperti Ibnu Rusyd, bahwa Imam Ahmad tidak dikategorikan sebagai ahli fiqih
namun lebih kepada Ahli hadist. Walau demikian sebagian ulama lainya tetap memasukan
beliau sebagi ahli fiqh buktinya madrasah dan pandangan-pandangan fiqh beliau
diterima oleh kaum muslimin sampai hari ini. Namun jika kiita teliti lebih
mendalam lagi seputar metodologi beliau dalam pengamalan suatu hadist, ternyata
sangat bersebrangan dengan metode nya ahli hadist, misalnya pendapat beliau yang
“membolehkan” mengamalkan hadist “Dhaif” atau lemah selama perawi hadist tersebut
tidak terkenal dengan pembohong dan fasiq, bagimana beliau di beberapa
kesempatan “mendahulukan logika” atau qiyas ketimbang hadist shahih, bahkan
kecendrungan beliau kepada mendahulukan “perasaan” ketimbang hadist yaitu
penggunaan dalil “saddu adz dzari’ah” seperti pendapat beliau “mengharamkan
menjual senjata” dizaman fitnah, padahal jual menjual hukum asal nya boleh,
namun beliau lebih mengedepankan saddu adz dzaraai khawatir kepada saling membunuh
nya kaum muslimin lantaran senjata tsb.
Bahkan ada beberapa pendapat beliau yg
justru bersebrangan dengan “kelompok” yg mengklaim diri mereka sebagai pengikut
Imam Ahmad, seperti sikap beliau yg membolehkan “Bertabarruk” mengambil Berkah
kepada orang shaleh yg sudah meninggal dunia, disebutkan oleh imam Ibnu Muflih
Al hambali dalam kitab beliau “Al Adab” jilid 2 hal 235, disitu beliau merekam
dengan baik perbuatan Imam Ahmad tatkala didatangkan baju nya seorang shaleh
tsb, beliau mengambil nya kemudian mengusapkan ke seluruh tubuh beliau. Juga pendapat
Imam Ahmad yang bertentangan dengan para pengklaim pengikut Imam Ahmad adalah pendapat
beliau yang membolehkan membaca surat yasin dan alquran di kuburan dengan
tujuan menghadiakan kepada sang mayit. Kalau lah sekiranya Imam Ahmad hidup
dizaman sekarang mungkin sudah di cap dengan gelar-gelar yang buruk seperti “kuburiyun”
laa haula walaa quwwata illa billah.
Penjelasan diatas
setidknya menyimpulkan bahwa, benar adanya para fuqaha itu mempunyai metode
sendiri dalam memahami dan mengamalkan suatu hadist dan bukan karena tidak tahu
atau bermudah-mudah dalam menilai status atau pengamalan suatu hadist.
Tulisan
ini sebenarnya hanya ingin memberikan informasi kepada pembaca bahwa sebenarnya
tidak perlu lah dibenturkan antara ulama ahli fiqh dengan ulama ahli hadist,
karena kedua kubu atau bidang ini justru saling membutuhkan satu sama lain dan justru
saling melengkapi.
Fiqh dan
hadist saling membutuhkan satu sama lain, mustahil keduanya jalan sendiri-sendiri.
ibarat rumah atau bangunan, fiqh itu seperti atap dan yg menopang atap tsb agar
bias terlihat kokoh adalah hadist. Jadi mustahil ada bangunan atau rumah yg
punya atap tanpa pondasi, pun sebaliknya bangunan tak akan sempurna dengan
pondasi tanpa ada atap nya.
begitu juga
Tidak akan lurus amalan kita terhadap hadist kecuali melalui pemahaman “akal”
kita atau melalui pemahaman ahli fiqh, dan akal kita tak akan lurus sampai bisa
jalan serasi dengan hadist, karena akal (melalui pemahaman fiqh) maupun hadist
kedua-duanya merupakan dalil, dan dalil tidak akan mungkin bertentangan satu
sama lainya.
berkata Imam
sufyan ibnu ‘uyainah;
الحديث مضلة
إلا للفقهاء
“Hadist itu
dapat menyesatkan kecuali bagi para fuqaha”
_Zulfikar Harun L.c
(Pengasuh Pesantren Online Darul
Hikmah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar