Minggu, 07 Juli 2019

Pendidikan Agama adalah Benteng Terakhir.


Pendidikan agama adalah banteng terakhir.

Indonesia memang bukan lah negara yg menjadikan agama sebagai instrument murni dalam mengambil atau memutuskan kebijakan, yg dimana tidak seperti negara-negara timur tengah yg menjadikan dasar hukum negara berasal dari hukum agama, namun bukan berarti juga, bahwa Indonesia adalah negara yg tak beragama (baca_sekuler), yg dimana pemimpin atau pemerintahan nya se enak perut dan tidak melibatkan agama islam dan kaum muslimin sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan maupun kebijkan, secara , mayoritas penduduk Indonesia jika dilihat dari besarnya pemeluk agama tertentu, mayoritas nya merupakan pemeluk agama islam, sehingga wajar jika seandainya pemerintah menetapkan suatu kebijakan, baik yg pro terhadap ummat islam maupun kontra, yang akan pertama kali merasakan imbas dari kebijakan tersebut adalah ummat islam.

Belum selesai masalah yg menimpa negara kita dari gelomba PILPRES kemarin yg sempat menelan korban, kini kita dikagetkan dengan isu bahwa pemerintah akan menghapus mata pelajaran agama dari sekolah-sekolah.
Benar ataupun tidak isu ini, seharusnya kita sebagai kaum muslimin, terus memberikan sikap penolakan kita terhadap isu kebijakan ini, khususnya di media social secara masif, mengingat pemerintahan kita yg selalu diam dan senyap-senyap, sengaja bola panas itu dibiarkan bergelinding ditengah masyarakat tanpa memberikan klarifikasi terhadap isu tsb, apakah benar atau hoax, yg tentu kemudian membuat kita yg masih punya hati Nurani, masih perhatian terhadap masa depan negara dan anak bangsa, harus khawatir, gelisah dan risau, jikalau isu tsb benar adanya atau sampai kebijakan tsb diberlakukan, karena tentu yang akan merasakan kerugian dari kebijakan tsb adalah kita kaum muslimin. berharap dengan sikap penolakan kita secara masif dapat mengurungkan niat pemerintah dalam melegalkan dan mensahkan kebijakan tsb.

Kerugian tersebut tentu bukan materi, tetapi kerusakan, kerusakan yg akan menimpa anak cucu kita dimasa yg akan datang, dimana ini akan menjadi awal batu loncatan mereka untuk melepaskan agama khususnya agama islam dalam  hal keterlibatan mengatur kebijakan dan sistem negara ini, sehingga akan menjurus ke sistem sekulerisasi secara total. Dan jika sudah seperti itu maka sia-sia lah pengorbanan ummat islam, santri dan ulama kita dalam memerdekakan negara ini dibawah pekikan takbir. Seolah tak berharga lagi Pancasila itu, yg dimana lahir dari nilai-nilai agama bahkan nilai Tauhid atau ketuhanan yg maha esa.

Berdalih bahwa jepang negara, yg dimana tak memasukan kurikulum agama dalam sekolah bisa menjadikan penduduk nya jujur.

Apakah dalil ini tepat?

Tentu kita tak menutup mata dari fakta lapangan bahwa memang ada di beberapa sekolah yg memasukan kurikulum agama islam namun ternyata belum bisa melahirkan murid yg berakhlak, belum bisa membentuk anak didiknya tuk berkepribadian jujur, sebagaimana ada juga di beberapa sekolah yg tidak memasukan kurikulum agama, namun  anak didiknya tak berakhlak, dan tak berbudi pekerti yg baik juga.

Namun apakah yg disalahkan murni ajaran agama nya? Tentu ini tidak tepat dalam memberikan penilaian, yg salah tentu bukan lah kurikulum atau agamanya tetapi pemeluknya yg belum sungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Atau bahkan justru pemerintah nya sendiri yg salah dalam hal menyajikan nya (baca_metode) yg dimana pelajaran atau kurikulum agama sebatas dijadikan sbg pelengkap kurikulum saja untuk mendapatkan nilai diatas kertas. Ingat, agama apapun itu tentu tak ada satupun yg menghendaki pemeluknya menjadi orang jahat.

Kurikulum agama saja yg sampai sekarang masih diajarkan disekolah-sekolah akan tetapi  masih banyak yg ternyata belum bisa mengamalkan secara keseluruhan dari nilai tsb, apalagi jika seandainya kurikulum agama benar-benar dihapus, dan jika itu terjadi, terus dengan apa kita akan memperbaiki generasi kita kedepan kalau bukan dengan ajaran dan nilai-nilai agama, karena hanya ajaran agama lah yg punya otoritas dan mampu memperbaiki batin pemeluknya.

Zulfikar Harun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar