Jumat, 24 November 2017

Antara jihad dan terorisme

“Islam bukan agama teroris”

Hari selasa 28 juni 2016 , kita digemparkan dengan bom bunuh diri yang terjadi  di bandara Istanbul, Turki. Namun seolah media-media senyap, diam seribu bahasa. Ketika kaum muslimin yang menjadi korban tindak kekerasan atau terorisme,  media-media seolah bungkam, seolah tak peduli dengan keadaan yang di rasakan oleh kaum muslimin, namun ketika yang menjadi pelaku segilintir orang atau oknum tertentu yang melakukan tindak terorisme, yakni bom bunuh diri dengan membawa lambang atau bendera islam, media-media barat(sekuler)ramai, mengutuk dan bahkan menabur bunga sebagai doa bersama dan lambang kesedihan, menolak tindakan tersebut. Seolah ingin menyudutkan islam, dengan selalu mengaitkan tindakan terorisme, dan ingin membenturkan antara konsep jihad dengan terorisme, padahal agama islam tak pernah sekalipun melegalisasi dan mengajarkan tindakan-tindakan terorisme.

Konsep islam…
Antara jihad dan terorisme

Apa yang di gambarkan oleh media barat tentang wajah islam hari ini, yang selalu identik dengan bom dan kekerasan, bukanlah konsep agama islam yang sebenarnya. Karena para pembawa agama islam semenjak ratusan abad yang lalu, mulai dari Rasulullah sampai para sahabat Beliau, tidak pernah sedikit pun mengajarkan kepada pemeluknya ajaran terorisme. Karena paham terorisme sangat kontradiktif dengan konsep agama islam  yang mengajarkan kasih sayang, bukan sekedar kepada sesama manusia, bahkan sampai kepada binatang pun, islam menagajarkan untuk berkasih sayang.

Allah SWT berfirman dalam surat al anbiya’ ayat 107 yang menjelaskan tentang konsep islam yaitu menebarkan kasih sayang.

ومآ أرسلناك إلاَ رحمة للعالمين

“Tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam”

Bahkan dalam alquran ada beberapa ayat sebagai penegasan tentang larangan membunuh jiwa yang di haramkan oleh Allah SWT sebagai bentuk dari rahmat dari Allah, agar kita manusia sadar, betapa berharganya jiwa seorang manusia, salah satunya dalam surat al an’am ayat 151.

ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلاَ بالحق

“Dan janganlah kalian membunuh jiwa-jiwa yang di haramkan oleh Allah kecuali dengan haq(yang dibenarkan)”

Islam agama cinta…

ادع إلى سبيل ربَك بالحكمة و الموعظة الحسنة

“Seru lah manusia kepada jalan tuhan Mu dengan cara yang hikmah dan dengan menasehati dengan cara yang baik”[Q.S An nahal 125]

Ayat di atas sangatlah jelas, bahwa dakwah seharusnya di lakukan dengan mengedepankan cara-cara damai dan bijaksana. Dan hal ini telah menjadi spirit bagi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan itu bisa di saksikan melalui sirah dan perjalanan hidup beliau, semasa ketika Beliau berdakwah di mekkah selama 13 tahun lamanya. Bahwa dakwah kepada agama islam tidak pernah dipaksakan kepada siapapun karena tugas Beliau hanyalah sebatas penyampai amanat ilahi saja.

Agama islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya tentang pemahaman terorisme dan radikalisme. Bahkan ketika dalam medan perang (jihad) sekalipun, islam sangat menjaga batasan-batasan dalam membunuh yaitu diantaranya membunuh dengan sekali tebasan, tidak boleh membunuh dengan menggunkan api (dengan cara membakar), tidak boleh merusak pohon, tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan dan orang tua. Bahkan ketika kaum muslimin melakukan ekspansi dan membebaskan satu wilayah, dilarang untuk merusak rumah-rumah ibadah masyarakat setempat. Ini semua merupakan implikasi dari ajaran islam yang sesungguhnya, yaitu menyebarkan rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam.

Proses masuknya islam ke indonesia menggambarkan wajah islam…

sejarah telah menjelaskan tentang proses masuknya islam ke indonesia. Dimana sejak kedatangan islam di bumi pertiwi indonesia, sepanjang menyangkut proses peyebaran nya sebagai agama dan kekuatan kultur,  islam telah menampakan keramahan nya. Dalam konteks ini, islam disebarkan secara damai, tidak memaksa pemeluk lain untuk masuk agama islam, menghargai budaya yang tengah berjalan, dan bahkan mengakomodasinya ke dalam kebudayaan lokal tanpa kehilangan identitasnya. Ternyata sikap toleran inilah yang banyak menarik simpatik masyarakat indonesia pada saat itu, untuk mengikuti ajaran islam.

Para pendakwah yang menyebarkan islam ke indonesia, sejak dulu tidak serta merta melakukan “pembumihangusan” terhadap kearifan-kearifan lokal yang sudah lama berserakan di bumi Nusantara. Artinya, mereka tidak menganggap bahwa “warisan nasional” yang ada di bumi Nusantara ini perlu di hancurkan lantas diganti secara frontal dengan simbol-simbol ke islaman yang literalis. Inilah wajah islam yang sebenarnya, bagaimana para pengemban dakwah betul-betul menerapkan konsep “cinta dan damai” dalam proses penyebaran islam di Nusantara.Dan ini sangat jauh berbeda dengan islam yang di gambarkan oleh media barat.

Terorisme adalah ancaman global…

Seolah ingin merusak islam dari dalam, para musush-musuh islam tidak kehabisan cara agar bagaimana islam tidak bisa berkembang dan tidak bisa diterima ditengah-tengah masyarakat barat. Sehingga mereka (membuat propaganda) membentuk kelompok radikal dengan melakukan teror dengan membawa bendera islam, sehingga dengan cara ini bisa merusak citra islam dan membuat orang-orang justru anti pati terhadap islam.  Cara ini telah terbukti ampuh. Dampak dari aksi teror yang mereka lakukan terlihat pada munculnya semacama stigmatisasi dari masyarakat terhadap busana yang dikenakan seorang muslim. Saat ini kerap kali kita jumpai orang yang bercelana cingkrang dan berjenggot, mereka ini lantas menjadi gampang dipandang sebagai sosok radikal. Padahal tidak semestinya di pandang seperti itu.

Terorisme memang saat ini tengah mengancam global kita, tetapi kita membutuhkan intelejen akurat yang mempertimbangkan seluruh bukti. Menurut Karen Armstrong, pengukutukan terhadap islam secara membabi buta dan tanpa dasar tidak akan membantu. Karena klaim sepihak seperti ini merupakan tuduhan yang tak berdasar. Pasalnya paham terorisme dan radikalisme bisa merasuk ke semua agama. Ketika perspektif politik dunia dibatasi pada relasi Islam-Barat, maka perspektif itu bagi sebagian orang yang berbicara tentang radikalisme berarti melakukan tuduhan. Radikalisme tidak menunjukan keyakinan-keyakinan agama, tetapi lebih merupakan pandangan sosio-politik, yakni masalah yang menyangkut urusan negara, masyarakat, dan dunia politik. Akan tetapi, masalah itu dewasa ini sering di artikulasikan melalui atau dengan simbol-simbol agama.

Padahal kalau kita telusuri semua ajaran agama yang ada dimuka bumi, tak ada satupun agama yang melagalkan paham terorisem dan radikalisme. Karena agama mengajarkan cinta, dan damai. Bahkan jika seseorang benar-benar memahami agamanya, membaca kitab nya maka sesungguhnya ia akan menemukan firman-firman Tuhan mewahyu di berbagai agama yang menyatakan bahwa Tuhan tidak menyamakan antara kejahatan(kekerasan) dengan konsep kebaikan. Agama mengajarakan secara gamblang bahwa kejahatan mutlak berbeda dengan kebaikan, lalu menganjurkan manusia membalas kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar