Tentang Syukur
Salah satu ibadah qalbu yang harus kita lakukan adalah “bersyukur” setiap saat, terkhusus “di saat Allah memberikan kita nikmat.”
Syukur dikategorikan sebagai ibadah, karena didalam syukur ada syarat “Ubudiyah (penghambaan) seorang hamba” yaitu ‘pengakuan ikrar’ kita kepada Allah bahwa yang memberikan kita berbagai macam kenikmatan, semata-mata hanyalah Allah dan bukan hasil jeri paya kita, sebagai bentuk ta’adduban atau adab kepada Allah, juga karena didalam syukur, ada pengakuan bahwa kita hanyalah makhluk Allah yang lemah dihadapan Allah, wajar kemudian syukur ini menjadi ibadah yang utama disisi Allah.
Tidak ada kerugian jika kita senantiasa bersyukur kepada Allah, justru sebaliknya, kerugian itu akan menimpa bagi mereka yang ingkar atau kufur terhadap nikmat Allah. Diantara kerugian tersebut, minimal dicabutnya nikmat-nikmat dari kita dan kerugian tiada tara adalah azab Allah atas orang-orang yang mengingkari dan kufur terhadap nikmat Allah.
Maka sebagai hamba, syukur itu sudah menjadi wajib hukum nya, setiap saat, setiap waktu, terkhusus ketika diberikan nikmat. Sebab dengan bersyukur, Allah akan mengekalkan nikmat itu pada kita, plus akan ditambah dengan nikmat yang lain yang lebih banyak.
Jadi sebenarnya dengan bersyukur setidaknya nya kita akan mendapatkan 2 hal;
- Allah mendawamkan/mengekalkan nikmat tersebut pada kita.
- Allah menambahkan nikmat Nya dengan yang lebih banyak lagi.
Jika melihat betapa penting nya syukur ini dalam hidup kita, terus apa yg dimaksud dengan syukur itu sendiri, bagaimana ulama kita memahami syukur itu?
Sebenarnya syukur secara definisi, banyak sekali disebutkan, akan tetapi dari yang banyak itu, ada definisi yang menarik dari Imam Ibnu ‘Ajibah yang mewakili definisi yang lain, yaitu;
"هو فرح القلب بحصول النعمة مع صرف الجوارح في طاعة المنعم والاعتراف بنعمة المنعم على وجه الخضوع"
Artinya:
“Syukur adalah rasa senang yang datang dari hati, sebab mendapatkan nikmat, yang dimana bersamaan dengan itu, menjaga seluruh anggota badan dalam rangka taat kepada pemberi nikmat (Allah) dan mengakui nikmat tsb yang dari dari Allah dengan penuh ketundukan…”
Apa saja yg harus kita syukuri dan bagaimana cara bersyukur kepada Allah?
Setelah kita sadari betapa baik nya Allah kepada kita, saking baik nya Allah kepada kita, Allah tidak pernah sedikit pun mengurangi jatah nikmat kita, hanya karena maksiat dan pengkhianatan kita kepada Nya, Allah tidak pernah mencabut nikmat Nya di saat kita sedang lalai dan maksiat kepada Nya, padahal bisa saja bagi Allah melakukan itu semua nya kepada kita, namun sebagaimana kalam Nya “Warahmati sabaqat min ghadabi” rahmat Ku lebih cepat dari pada murka Ku.
Maka sebagai seorang hamba yg sadar bahwa semua hidup kita adalah anugerah dari Allah maka sepatut nya bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, apapun yg Allah berikan kepada kita baik rezeki yg kasat mata, maupun yg tak kasat mata. Lebih jelas nya, sebagaimana yg disebutkan oleh para ulama kita tentang nikmat yg wajib kita syukuri, mereka membagi nikmat menjadi 3 macam;
- Nikmat Dunia, ini nikmat paling rendah yg justru hari ini kita agung-agungkan, kita Tuhan-Tuhan kan, padahal secara tingkatan nikmat ini yg paling rendah, dimana Allah tidak mengkhususkan nikmat ini, diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki, baik yg muslim maupun non muslim, baik yg beriman maupun yg tidak beriman, sebagai bentuk rahmah atau kasih sayang nya Allah kepada semua makhluk Nya. Walau demikian wajib bagi kita yg dianugerahi nikmat dunia untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, nikmat tersebut berupa, harta, tahta, jabatan, kesehatan dan nikmat dunia lain nya. Maka wajib untuk kita syukuri.
- Nikmat Akhirat, nikmat ini sedikit lebih khusus, dimana Allah berikan hanya kepada orang-orang yg beriman kepada Nya, berupa pahala, keutamaan, dan fadhilah, sebagai bentuk imbalan ketaatan yg mereka lakukan.
- Nikmat Diniah, nikmat ini hanya Allah berikan kepada kekasih nya, berupa makrifat, takwa (rasa takut kepada Nya) dan kemampuan untuk bisa beramal. Dan ini dipertegas oleh Allah sendiri didalam Alquran Allah SWT berfirman;
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Akan tetapi Allah lebih cinta atas kalian keimanan dan menghiasi qalbu kalian dengan iman, dan Allah sangat tidak mencintai kekufuran dan kefasikan juga kemaksiatan, mereka inilah orang-orang Rasyidun (yg mendapat petunjuk)
Dan bagi seorang hamba yang dituntut untuk selalu bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang telah diberikan, maka tak ada cara kita bersyukur kepada Allah melainkan dengan;
- Bersyukur dengan lisan kita, minimal dengan selalu mendawamkan (merutinkan) membaca “alhamdulillah”. Dan diantara bentuk bersyukur dengan lisan kita adalah “tahadduts bin ni’mah” bercerita tentang nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, karena sebagaimana kita manusia senang pemberian kita dihargai dengan disebut-sebut bahwa itu adalah pemberian kita, pun begitu juga dengan Allah, Allah senang jika nikmat Nya disebut-sebut. Hanya saja bagi kita yg ingin “Tahadduts bin ni’mah” untuk memperhatikan kondisi hati kita, agar tidak menjadi ajang pamer dengan dalih tahadduts bin ni’mah.
- Bersyukur dengan anggota tubuh, yaitu dalam bentuk taat kepada Allah, menjaga semua anggota tubuh kita agar tidak bermaksiat kepada Allah, sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita, sebagaimana Allah memerintah kan Nabi Daud dan keturunan nya agar bersyukur dengan cara beramal sebagaimana yg disebutkan didalam Alquran Allah SWT berfirman;
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
“Beramal lah kalian wahai keluarga Daud sebagai wujud Syukur”
Dan Rasulullah SAW adalah sosok hamba yg paling bersyukur kepada Allah, manusia yang paling sempurna dalam bersyukur kepada Allah SWT, dan wujud syukur beliau diwujudkan dalam bentuk ibadah, padahal dosa-dosa beliau sudah diampuni oleh Allah, baik yg telah lalu maupun yang akan datang, manusia yang sudah dijamin masuk syurga, padahal bisa saja beliau bersantai-santai dalam ibadah, tak perlu begitu giat, namun itulah wujud syukur nya beliau kepada Allah karena sudah memberikan nikmat tiada tara.
- Bersyukur dengan Qalbu, yaitu dengan meyakini apa pun yg kita peroleh berupa nikmat, semua nya berasal dari Allah. Semua kenikmatan yang kita rasakan tidak membuat kita lalai dari sang pemberi Nikmat, inilah syukur tertinggi seorang hamba, ia selalu melihat bahwa apa yang ia dapatkan adalah semuanya dari Allah, sedangkan makhluk hanyalah wasilah, tentu dengan tidak menghilangkan rasa terima kasih kita kepada siapa saja yang menjadi wasilah atas nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Maka dari itu mari saya mengajak baik diri sendiri maupun para pembaca, jadilah hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah atas anugerah yang tiada tara, baik dengan lisan kita yaitu dengan mendawamkan “alhamdulillah”, dengan perbuatan yaitu dalam bentuk ketaatan kepada Nya, maupun dengan qalbu kita yaitu meyakini Allah SWT lah satu-satu nya pemberi nikmat.