Curahan Hati.
Pasca runtuh nya khilafah Turki ustmani, kekuatan kaum
muslimin melemah, persatuan tergerus, dan konsentrasi terpecah, kondisi
tersulit dalam sejarah yg belum pernah dirasakan oleh ummat islam sebelum nya.
Pasalnya semua menjadi gelap, abu-abu dan samar-samar, sulit rasanya tuk
menentukan mana yg benar dan mana yg salah.
Ditengah kelemahan tersebut, tentu Allah tak akan tinggal
diam, sebagaimana janji Nya, akan ada kelompok ummat Muhammad yg selalu
berjuang, memperjuangkan kebenaran. Maka dibalik kelemahan yg dirasakan oleh
kaum muslimin, muncul gerakan gerakan baru, untuk membangkitkan kembali
kekuatan yg melemah, dan semangat yg seolah terpendam oleh situasi yg sulit.
Seolah ada hikmah yg besar dibalik kelemahan yg kita rasakan
saat ini, seperti sudah menjadi sunnatullah, yg mau tak mau memaksa kita untuk
bersinergi memperbaiki keadaan dan saling bahu membahu dengan menggunakan
potensi masing-masing yg kita miliki.
Itulah polarisasi dakwah. Ada yg fokus memperbaiki aqidah
dan keyakinan kaum muslimin ditengah kejahilan dan kesyirikan merajalela. Ada
yg menjadikan jihad sebagai jalan revolusi untuk melawan para thagut, agar bisa
mengembalikan izzah dan kemuliaan kaum muslimin. Dan ada yg berjuang untuk
meninggikan syiar-syiar islam, dan menjadikan hukum Allah diatas hukum manusia
melalui jalur konstitusional.
Tak ada yg salah dengan setiap pilihan perjuangan yg
ditempuh oleh kita, selama Tujuan nya sama, sama-sama meninggikan kalimat
Allah, maka tak perlu saling menyalahkan apalagi merasa paling benar, paling
berilmu dan bertakwa diantara yg lain.
Ummat islam yg lahir diakhir zaman, adalah ummat yg spesial,
kita adalah ummat pilihan. Allah memilih kita dibanding ummat yg lain, Allah
percaya, kitalah yg mampu untuk menyelesaikan problem hari ini. Maka tanamkan
lah kesadaran ini didalam lubuk hati yg paling dalam, agar kita tidak lalai.
Tantangan kita hari ini jauh lebih berat ketimbang tantangan
para pendahulu kita. Hari ini kita harus bangkit melawan sesuatu yg bahkan tak
mampu untuk kita abstraksikan, tak kasat mata, namun terasa pengaruhnya, pelan,
tapi pasti daya rusaknya, syahwat dan syubhat adalah senjata utama hari ini
untuk merusak ummat islam, namun agar bisa menipu, dibungkus sehalus mungkin
sehingga samar dan tak nampak. Media menjadi bajunya, untuk tampak sebagai
sesuatu yg indah dan seolah benar.
Saya teringat salah satu diantara teori yg pernah dituturkan
oleh Samuel Huntington seorang politikus dalam kesempatan nya ketika berbicara
tentang konteks konspirasi dan makar, kurang lebih maknanya; “hari ini pilar
kekuatan suatu negara atau bangsa terletak pada penguasaan mereka terhadap ilmu
pengetahuan dan teknologi informasi”
Maka sebagai mahasiswa yg akan menjadi cikal bakal
penyambung risalah Nabi, untuk tidak ketinggalan ilmu pengetahuan dan isu-isu
seputar informasi terkini apalagi jika
berkaitan dengan mashlahat ummat islam, kalau belum mampu mencarikan solusi
paling tidak, kita telah turut perhatian dengan kondisi ummat islam. sungguh
miris jika melihat sikap sebagian kita yg paranoid dan antipati dengan
informasi, apalagi dengan dalih menghabiskan waktu, ingat, keberhasilan dakwah
sangat ditentukan oleh kualitas Duat nya, seorang dai yg berkualitas mampu
beradaptasi dengan perkembangan baik teknologi maupun informasi terkini, agar
bisa merumuskan solusi-solusi yg ditawarkan oleh syariat islam yg sesuai dengan
kondisi ril hari ini.
Sekali lagi, alangkah baiknya kita saling bersinergi untuk
mengeluarkan ummat dari keterpurukan tanpa harus saling menyalahkan, tanpa
harus saling mengklaim dan merasa paling benar metode nya, apalagi merasa
paling bertakwa disisi Allah.
By: Zulfikar Harun
